BERITA TERKINI
Proses Adaptasi Webtoon ke Drama dan Film: Dari Pemilihan Mitra hingga Penyesuaian Cerita

Proses Adaptasi Webtoon ke Drama dan Film: Dari Pemilihan Mitra hingga Penyesuaian Cerita

Sejumlah drama dan film Korea yang populer belakangan ini diketahui berasal dari adaptasi webtoon atau komik web. Dua di antaranya yang kerap disebut adalah “Nevertheless” dan “Sweet Home”. Dalam wawancara via surel, Head of Global Webtoon SEA Line Webtoon, Hana Cha, memaparkan proses di balik adaptasi webtoon ke layar, tingkat keterlibatan kreator, hingga pengaruh platform penayangan terhadap kualitas produksi.

Bagaimana adaptasi webtoon dimulai

Menurut Hana Cha, proses adaptasi bisa berawal dari permintaan pihak luar, seperti produser, stasiun TV, atau platform OTT. Dalam skema ini, pihaknya akan melakukan pemeriksaan internal untuk memilih mitra terbaik, kemudian menyusun rencana investasi produksi setelah kontrak dinilai dan diproses secara menyeluruh.

Di sisi lain, ada pula situasi ketika pihak webtoon yang lebih dulu menyusun rencana dan mengajukan proposal kepada produser atau perusahaan TV dan OTT. Seiring meningkatnya popularitas webtoon, Cha mengatakan produser global dan perusahaan investasi juga semakin sering menghubungi mereka secara langsung.

Contoh adaptasi yang dianggap sukses

Cha menilai “Sweet Home” sebagai salah satu karya adaptasi yang paling sukses, terutama karena jangkauan global yang diperkuat oleh popularitas Netflix. Ia menyebut karya tersebut dicintai tidak hanya di Korea, tetapi juga secara internasional.

Keterlibatan kreator webtoon dalam produksi

Tingkat keterlibatan kreator webtoon dalam adaptasi, kata Cha, berbeda-beda pada setiap proyek. Namun, ia menyebut banyak kreator tidak terlibat langsung dalam pembuatan drama, termasuk dalam pemilihan pemeran. Dalam banyak kasus, kreator memberikan izin pemanfaatan kekayaan intelektual (intellectual property/IP), memperoleh keuntungan dari IP, dan menyerahkan proses produksi kepada rumah produksi profesional.

Meski demikian, ada pula kreator yang berpartisipasi langsung, terutama dalam pengembangan cerita. Cha mencontohkan drama “My ID is Gangnam Beauty”, di mana kreator ikut menyesuaikan naskah cerita dan dialog. Menurutnya, kreator dinilai paling memahami karakter dan dapat membantu menonjolkan dialog agar lebih kuat. Ia menambahkan, pengalaman tersebut juga membuat kreator banyak membantu penulisan naskah untuk karya berikutnya, “Her Secret!”.

Menjembatani pembaca webtoon dan penonton drama/film

Cha mengakui tidak mudah memuaskan pembaca webtoon sekaligus penonton adaptasi. Webtoon, menurutnya, sering memuat monolog, tetapi dalam medium video, penggunaan monolog yang berlebihan dapat membuat perkembangan cerita terasa datar dan mengganggu alur.

Karena itu, elemen monolog kerap disesuaikan menjadi dialog dengan karakter lain. Dalam banyak kasus, adaptasi juga menambahkan elemen yang tidak persis sama dengan versi webtoon. Cha menilai perbedaan tertentu wajar, sementara berbagai modifikasi naskah dilakukan untuk menutup celah yang muncul dalam proses pemindahan medium.

Pengaruh platform penayangan terhadap kualitas produksi

Cha menyebut saluran penayangan berdampak besar pada kualitas produksi. Ia menjelaskan biaya produksi per episode cenderung meningkat dari saluran terestrial ke saluran kabel, dan kini semakin meningkat ketika berpindah ke OTT atau platform streaming.

Kenaikan biaya produksi ini, menurutnya, membuka peluang untuk mencoba berbagai genre dan bereksperimen. Ia menyinggung pengerjaan CG (computer-generated imagery) yang mahal sebagai salah satu contoh, dan menilai jumlah karya yang sukses di pasar global juga meningkat secara bertahap. Cha juga menilai kehadiran OTT seperti Netflix memberi lebih banyak peluang bagi webtoon dan rumah produksi.

Faktor webtoon dipilih untuk diadaptasi dan tren genre

Cha mengatakan sebuah serial webtoon umumnya perlu populer di platform terlebih dahulu dan memiliki alur cerita yang menarik. Ia menambahkan, webtoon biasanya diadaptasi menjadi serial TV atau film ketika ceritanya sudah selesai, sehingga kreator umumnya tidak mempertimbangkan peluang adaptasi sejak awal pengerjaan.

Untuk genre, Cha menyebut romansa masih menjadi yang paling populer. Namun, belakangan genre aksi dan horor disebutnya semakin diminati di kalangan pembaca.