Denpasar—Ketua Tim Percepatan Pelaksanaan Layanan Kesehatan Tradisional Provinsi Bali, Prof apt. Dr. rer. nat I Made Agus Gelgel Wirasuta, M.Si., memaparkan peluang kerja dan usaha di industri Balinese Wellness seiring menguatnya tren global gaya hidup sehat, pariwisata berbasis kebugaran, serta minat terhadap warisan budaya lokal Bali.
Menurut Prof Gelgel, kebutuhan tenaga kerja di sektor ini dinilai potensial karena layanan kebugaran dan penyembuhan alami banyak dicari di destinasi wisata, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Ia menyampaikan hal tersebut di Denpasar, Kamis (12/6).
Ragam peluang kerja di Balinese Wellness
Prof Gelgel merinci sejumlah jalur karier yang dapat dikembangkan dalam industri Balinese Wellness:
- Terapis Tradisional Bali, dengan keahlian pijat Bali, boreh, lulur, refleksi, serta terapi uap rempah. Peluang kerja tersedia di SPA, resort, wellness retreat, klinik usada, dan destinasi wisata.
- Instruktur Wellness dan Yoga, dengan keahlian yoga, meditasi, breathwork, dan mindfulness. Prof Gelgel menyebut perlunya sertifikasi, misalnya RYT 200, serta penguatan nilai Tri Hita Karana dan prinsip desa kala patra.
- Ahli Herbal/Jamu Bali, yang menguasai peracikan jamu dan obat tradisional (usada) serta mengenal tanaman obat. Ruang kerja meliputi pengembangan produk jamu, konsultasi herbal, dan workshop edukasi kesehatan alami.
- Pemandu Wellness Retreat, dengan kompetensi di bidang hospitality, kemampuan memandu, penguasaan bahasa asing, dan pemahaman spiritual lokal. Perannya mendampingi wisatawan selama program retreat kebugaran atau healing.
- Konsultan Usada Bali/Praktisi Spiritual, yang memberikan layanan konsultasi berbasis usada Bali, pembacaan aura, hingga penyucian diri. Prof Gelgel menekankan pentingnya pemahaman filosofi dan etika pengobatan tradisional Bali.
- Chef atau Ahli Gizi Wellness, dengan kemampuan menyajikan makanan sehat berbasis lokal, diet detoks, plant-based, atau Ayurveda. Kebutuhan tenaga ini disebut ada di hotel wellness, klinik detoks, maupun retret.
- Tenaga Administrasi dan Manajerial Wellness Center, yang menangani manajemen layanan, pemasaran, pemesanan paket, dan customer care. Keahlian yang diperlukan antara lain bahasa Inggris, hospitality, dan digital marketing.
- Pengusaha Produk Wellness Lokal, misalnya minyak pijat, sabun herbal, produk aromaterapi, dan minuman kesehatan. Prof Gelgel menyebut adanya peluang ekspor serta kemitraan dengan hotel, spa, dan resort.
- Tenaga Pengajar dan Peneliti Usada Bali, yang berperan melestarikan ilmu pengobatan Bali melalui pendidikan, riset, dan dokumentasi, baik di institusi pendidikan maupun program pelatihan wellness.
Kebutuhan dukungan, pelatihan, dan sertifikasi
Prof Gelgel menilai penguatan industri Balinese Wellness memerlukan dukungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Kementerian Kesehatan, khususnya untuk pengembangan wellness tourism berbasis budaya lokal. Ia juga menyoroti posisi Bali sebagai destinasi unggulan wellness dunia di tengah pasar global yang terbuka dan meningkatnya minat wisatawan asing pada pengalaman otentik serta penyembuhan alami.
Dari sisi peningkatan kapasitas, ia menyebut kebutuhan pendidikan dan sertifikasi, termasuk sertifikasi BNSP untuk terapis SPA atau herbal. Selain itu, pelatihan usada Bali, bahasa Inggris, serta pelayanan wisata wellness dinilai penting, dengan harapan adanya kolaborasi antara Dinas Pariwisata, lembaga kursus, dan desa adat.
Sejalan dengan regulasi daerah
Upaya pengembangan tersebut, menurut Prof Gelgel, sejalan dengan Peraturan Gubernur Bali Nomor 55 Tahun 2019 tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional Bali.
Ia menekankan bahwa industri Balinese Wellness tidak hanya menawarkan lapangan kerja, tetapi juga membuka peluang berwirausaha sekaligus mendukung pelestarian budaya lokal. Dengan pendekatan profesional, sertifikasi, dan inovasi berbasis tradisi, sektor ini dinilai berpotensi menyerap tenaga kerja lokal, terutama generasi muda Bali, agar mampu bersaing di tingkat global.

