BERITA TERKINI
Produksi Sawit Sulsel 104.000 Ton pada 2024, Pemprov dan BI Dorong Hilirisasi Investasi

Produksi Sawit Sulsel 104.000 Ton pada 2024, Pemprov dan BI Dorong Hilirisasi Investasi

Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan bersama Bank Indonesia menggelar Dedicated Team Meeting Forum Pinisi Sultan 2026 di Makassar, Senin (27/4/2026). Pertemuan ini diarahkan untuk mempercepat transformasi ekonomi daerah melalui hilirisasi investasi.

Langkah tersebut ditujukan untuk memposisikan Sulawesi Selatan sebagai Superhub Ekonomi Nusantara, sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.

Dalam agenda itu, sektor perkebunan menjadi salah satu tumpuan. Produksi kelapa sawit Sulawesi Selatan tercatat sebesar 104.000 ton pada 2024, yang dinilai berpotensi mendukung pengembangan industri turunan berbasis komoditas perkebunan.

Pemprov Sulsel menyebut transformasi ekonomi daerah bertumpu pada percepatan hilirisasi untuk menciptakan nilai tambah, penguatan investasi berkelanjutan berbasis prinsip hijau, serta penguatan instrumen penyelesaian hambatan investasi (de-bottlenecking).

Secara nasional, agenda hilirisasi hingga 2040 diproyeksikan dapat mendorong nilai tambah ekonomi hingga 235,9 miliar dolar AS dan membuka lapangan kerja bagi lebih dari tiga juta orang.

Sulawesi Selatan juga menargetkan peralihan peran dari pengirim bahan mentah menjadi pusat pengolahan sumber daya alam, dengan tujuan menjaga stabilitas ekonomi dari fluktuasi harga komoditas mentah di pasar global. Ketergantungan pada ekspor bahan mentah disebut masih menjadi perhatian, termasuk nikel yang mendominasi 56,11 persen pangsa ekspor wilayah.

Di sisi investasi, realisasi investasi Sulawesi Selatan pada 2025 tercatat sebesar Rp19,544 triliun, tumbuh 39,25 persen dibandingkan periode tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) menyumbang Rp11,528 triliun dan Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp8,016 triliun.

Penyerapan tenaga kerja lokal juga dilaporkan meningkat 12,12 persen dengan total 26.130 orang terserap. Pemprov Sulsel menyatakan penyebaran investasi sektor industri kini semakin terkonsolidasi pada sejumlah simpul ekonomi utama agar pertumbuhan tidak terpusat pada satu wilayah perkotaan.

Makassar menjadi wilayah dengan realisasi investasi terbesar senilai Rp5,293 triliun. Berikutnya Kabupaten Luwu Timur Rp4,207 triliun, Kabupaten Luwu Rp2,818 triliun, Kabupaten Maros Rp1,673 triliun, dan Kabupaten Gowa Rp871 miliar.

Pemprov Sulsel menyatakan akan memberikan kemudahan perizinan dan menciptakan iklim investasi yang kondusif, termasuk untuk mendukung pengembangan unit industri pengolahan kelapa sawit lokal. Dalam peta jalan hilirisasi investasi strategis, Sulawesi Selatan diposisikan sebagai salah satu simpul penting dalam rantai nilai nasional untuk 28 komoditas strategis yang tersebar di delapan sektor utama pembangunan ekonomi.

Hilirisasi, menurut Pemprov Sulsel, tidak semata mengejar peningkatan ekspor, tetapi juga diarahkan untuk memperluas industrialisasi berbasis daerah guna memperkuat kedaulatan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya alam secara maksimal.