Polda Jawa Timur menyita 11 buku dari para tersangka kasus perusakan dan pengeroyokan polisi di Pos Lantas Waru, Sidoarjo. Polisi menyatakan penyitaan itu dilakukan untuk mendalami kemungkinan keterkaitan isi bacaan dengan tindakan para pelaku.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jatim Kombes Pol Widi Atmoko mengatakan, penyidik ingin menelusuri apakah buku yang dibaca dapat memengaruhi cara pandang seseorang hingga melakukan tindakan anarkis.
Sebelumnya, Polda Jawa Barat juga mempublikasikan sejumlah buku yang disebut sebagai barang bukti terkait kericuhan saat demonstrasi di Gedung DPRD Jawa Barat pada Selasa (16/9/2025). Dalam rilis tersebut, beberapa buku disebut memuat teori anarkisme yang diduga menjadi referensi literasi kelompok pendemo anarkistis.
Beberapa judul yang ditampilkan antara lain Menuju Estetika Anarkis, Why I Am Anarchist, Sastra dan Anarkisme, serta buku lain dengan narasi serupa. Kapolda Jabar Irjen Pol Rudi Setiawan menyebut ada pula buku yang dinilai memuat ajakan desersi, namun ia menekankan keseluruhan barang bukti itu berisi narasi anarkisme.
Menanggapi pertanyaan apakah bacaan dapat memengaruhi perilaku, psikolog sekaligus dosen Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta Ratna Yunita Setiyani Subardjo menyatakan bacaan memang bisa berdampak pada perilaku seseorang, tetapi pengaruhnya tidak sederhana atau terjadi secara langsung.
Menurut Ratna, ada sejumlah faktor yang menentukan sejauh mana bacaan memengaruhi perilaku. Pertama, konteks dan tujuan membaca, termasuk cara seseorang memahami teks serta apa yang dicari dari bacaan, akan memengaruhi bagaimana informasi diproses dan diterapkan.
Kedua, pengalaman dan latar belakang. Ia menyebut pengalaman hidup, nilai-nilai, dan keyakinan yang sudah dimiliki sebelumnya turut membentuk cara seseorang menafsirkan dan merespons informasi yang dibaca.
Ketiga, karakteristik individu. Faktor seperti kepribadian, kontrol diri, dan kemampuan berpikir kritis juga berperan dalam menentukan respons seseorang terhadap informasi yang diterima.
Ratna menjelaskan, anarkisme pada dasarnya merupakan teori politik yang menekankan kebebasan individu serta penghapusan struktur kekuasaan yang otoriter. Namun, interpretasi dan implementasinya dapat sangat bervariasi.
Ia menambahkan, bacaan tentang anarkisme dapat mendorong seseorang mempertanyakan otoritas dan mencari kebebasan yang lebih besar. Akan tetapi, apakah hal itu berujung pada perilaku destruktif atau konstruktif sangat bergantung pada individu dan konteksnya.
Ratna menilai penyitaan buku bertema anarkisme kemungkinan didasari kekhawatiran bahwa gagasan tertentu dapat memicu perilaku destruktif atau kekerasan. Meski demikian, dari perspektif psikologi, ia menekankan pentingnya melihat kompleksitas hubungan antara bacaan dan perilaku, karena konteks, pengalaman individu, dan karakter pribadi sangat menentukan bagaimana informasi diproses dan diterapkan.
Karena itu, Ratna menyarankan pendekatan yang seimbang dan berbasis bukti dalam menangani isu semacam ini. Ia juga mengingatkan bahwa budaya membaca secara utuh masih kurang dan masyarakat lebih banyak mengonsumsi informasi dari media sosial.
Ratna menilai penyitaan buku tidak serta-merta mencerminkan langkah yang bijak. Menurutnya, orang membaca untuk memperluas pengetahuan lintas disiplin dan memperkaya literasi. Ia mengingatkan agar proses penanganan terhadap orang yang gemar membaca dilakukan lebih bijak dan tidak serta-merta menjadikan buku sebagai penyebab utama perilaku mereka.

