BERITA TERKINI
Piringan Hitam Kembali Dilirik, dari Nostalgia hingga Perdebatan Kualitas Suara Analog

Piringan Hitam Kembali Dilirik, dari Nostalgia hingga Perdebatan Kualitas Suara Analog

Piringan hitam sempat dianggap tersisih dari kehidupan sehari-hari selama beberapa dekade. Ketika perangkat musik beralih dari CD hingga platform streaming, kebutuhan ruang dan waktu untuk memutar musik analog membuat format ini seolah “ditakdirkan” punah.

Namun, piringan hitam kembali mendapat tempat. Kembalinya format ini juga dipandang sebagai penanda kebangkitan kembali audio analog, sekaligus menunjukkan bahwa piringan hitam tidak benar-benar hilang. Di tengah tren tersebut, pertanyaan yang terus muncul adalah apakah piringan hitam memang terdengar lebih baik dibanding musik digital.

Untuk memahami perdebatan itu, perlu melihat cara kerja perekaman suara pada piringan hitam dan sistem digital. Pada piringan hitam, suara direkam dalam alur spiral yang membentang dari tepi luar menuju bagian tengah piringan. Alur ini berbentuk huruf V dan memungkinkan perekaman stereo, karena masing-masing saluran direkam pada salah satu sisi V.

Karena pertimbangan mekanis, alur harus dibuat dangkal agar mengurangi risiko masalah saat pemutaran, seperti jarum yang melompat akibat tusukan atau gerakan tiba-tiba. Alur tersebut menyimpan variasi mikroskopis yang proporsional dengan tekanan suara asli.

Sebelum direkam ke piringan, sinyal musik dimodifikasi. Suara bass dikurangi dan suara treble diperkuat untuk menyesuaikan dengan cara kerja jarum stylus. Karena itu, pemutar piringan hitam dilengkapi sirkuit yang membalikkan proses tersebut: bass diperkuat kembali dan treble dilemahkan saat pemutaran.

Sementara itu, studio rekaman menggunakan format audio profesional yang kualitasnya lebih tinggi daripada yang terdapat pada CD. Untuk mencapainya, digunakan laju pengambilan sampel yang lebih tinggi dan jumlah bit per sampel yang lebih besar, yakni 24 bit. Pengaturan ini membuat representasi sinyal menjadi lebih akurat dan membantu mengurangi noise yang muncul selama proses konversi digital.

Meski demikian, file dengan kualitas tersebut membutuhkan ruang penyimpanan jauh lebih besar dan dinilai kurang praktis untuk penggunaan rumahan. Karena itu, format kemudian disesuaikan agar sebuah CD dapat memuat sekitar 80 menit musik, atau sekitar 15–20 lagu.