Para pegiat seni teater di Kota Tasikmalaya menyampaikan harapan sekaligus refleksi pada peringatan Hari Teater Sedunia (Hatedu) 2025 yang jatuh pada 27 Maret. Momentum ini dipandang bukan sekadar perayaan, melainkan ruang untuk mendorong penguatan seni teater serta mempererat solidaritas di antara seniman.
AB Asmarandana, Founder Ngaos Art, menekankan pentingnya eksplorasi dalam teater. Ia menilai momen Hatedu dapat menjadi kesempatan untuk mengkaji lebih dalam batas antara permintaan maaf dan ketegasan sikap dalam berekspresi. Menurutnya, seni semestinya mampu menjadi medium yang menyalakan kesadaran tanpa kehilangan esensi kemanusiaan.
Sementara itu, Ashmansyah Timutiah—yang dikenal sebagai Bang Acong dari Komunitas Cermin—menyoroti tantangan teater di tengah arus digitalisasi. Ia mengatakan, bertahannya teater ketika banyak ekspresi beralih ke media digital sudah menjadi capaian tersendiri.
Ia juga menyinggung kondisi latihan yang kian terbatas. Menurutnya, bisa berlatih seminggu sekali saja sudah tergolong beruntung, terlebih bila kelompok teater masih mampu mencari bentuk-bentuk baru, baik dari sisi pemanggungan maupun eksplorasi tema yang terus berkembang mengikuti zaman.
Bang Acong menilai perubahan sosial akibat digitalisasi turut mengubah karakter masyarakat menjadi lebih instan dan kurang sabar dalam menikmati proses kreatif. Ia menyebut sejumlah kelompok teater mulai menghilang dari peredaran. Karena itu, ia berharap para seniman tetap kuat, terus berkarya, dan melakukan regenerasi, mengingat teater dinilainya penting bagi kehidupan serta pendidikan masyarakat.

