Perum Perhutani melalui anak usahanya, Eqonique (PT Perhutani Alam Wisata Risorsis), tengah membangun ekowisata premium sebagai bagian dari transformasi bisnis perusahaan. Langkah ini menandai pergeseran Perhutani dari peran tradisional sebagai pengelola hutan menuju pengembangan pariwisata berkelanjutan dan regeneratif di Indonesia.
Eqonique mengusung konsep yang menggabungkan keindahan alam, pengalaman wellness atau kesehatan holistik, serta pemanfaatan teknologi hijau dalam satu ekosistem wisata. Perhutani menyatakan ingin menghadirkan pengalaman wisata yang tidak hanya nyaman dan menarik, tetapi juga memberi dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat sekitar, sejalan dengan meningkatnya perhatian global pada isu lingkungan dan perubahan iklim.
Dalam pengembangan produknya, Eqonique menempatkan wellness tourism sebagai fokus utama. Wisata diarahkan pada pemulihan tubuh dan ketenangan jiwa melalui terapi alam dan aktivitas seperti meditasi hutan. Eqonique menggunakan filosofi Etnaprana dan Stoik sebagai landasan nilai, yang menekankan harmoni manusia dengan alam serta ketenangan batin.
Di sejumlah destinasi seperti Coban Rondo, Green Grass Cikole, dan Baturraden Resort, Eqonique menawarkan kegiatan antara lain yoga terbuka di kawasan hutan, terapi etnobotani, serta program digital detox untuk membantu pengunjung memulihkan keseimbangan tubuh dan pikiran. Konsep ini disebut selaras dengan tren transformational travel, ketika wisatawan mencari pengalaman yang bermakna.
Selain pengalaman berbasis alam dan budaya, Eqonique juga mengembangkan pendekatan teknologi hijau dan digitalisasi untuk mendukung operasional yang efisien dan berkelanjutan. Salah satu inovasi yang disebut tengah dikembangkan adalah Eco Smart System, sistem digital terpadu untuk mengelola operasional resor, konsumsi energi, hingga pelacakan jejak karbon secara real time. Melalui skema ini, wisatawan dapat melihat perkiraan emisi karbon selama perjalanan serta opsi penyeimbangannya melalui program offset karbon yang dikelola Perhutani.
Eqonique juga mengembangkan aplikasi digital berbasis carbon tracking agar wisatawan dapat memantau kontribusinya terhadap pelestarian hutan. Perusahaan menilai pendekatan tersebut membuat aktivitas wisata tidak hanya bersifat rekreatif, tetapi juga edukatif dan terkait langsung dengan agenda keberlanjutan.
Perhutani menyatakan pengembangan ekowisata ini ditopang fondasi tata kelola pengelolaan hutan yang telah dimiliki. Perhutani telah mengantongi sertifikasi Forest Stewardship Council–Forest Management (FSC-FM) dan Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL). Audit tahunan oleh lembaga independen seperti PT SGS disebut dilakukan untuk memastikan operasional berjalan sesuai prinsip ekologi, sosial, dan ekonomi. Perhutani juga menekankan transparansi dalam sistem Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebagai bagian dari komitmen tata kelola yang akuntabel.
Di sisi lain, Eqonique memadukan pengembangan wisata dengan solusi iklim berbasis alam atau Nature-Based Solutions (NBS). Perhutani menyebut telah menggandeng mitra seperti PT United Tractors Tbk dan PT Pertamina Power Indonesia (PPI) dalam proyek offset karbon yang terintegrasi dengan ekowisata. Melalui skema Mandatory Carbon Contribution (MCC), wisatawan disebut berkontribusi pada reboisasi dan konservasi hutan setiap kali berkunjung.
Eqonique turut memperkenalkan program Adopt-A-Plot, yang memungkinkan wisatawan mengadopsi sebidang hutan dan memantau pertumbuhannya melalui aplikasi digital. Program ini diposisikan sebagai bagian dari konsep carbon tourism, yakni wisata yang dikaitkan dengan dampak langsung pada upaya penyeimbangan iklim.
Perhutani juga menekankan keterlibatan masyarakat lokal melalui kerja sama dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) dan BUMDes agar manfaat ekonomi turut dirasakan warga sekitar. Salah satu contoh yang disebut adalah Wisata Watu Rumpuk di Madiun, dengan skema bagi hasil yang menyalurkan 30% pendapatan ke desa dan masyarakat setempat. Pendekatan tersebut dikaitkan dengan konsep pariwisata regeneratif, yakni wisata yang berupaya memperbaiki ekosistem sosial dan lingkungan.
Melalui Eqonique, Perhutani menyatakan ambisi untuk menempatkan Indonesia sebagai destinasi ekowisata premium yang memadukan alam, wellness, dan teknologi hijau. Perhutani menyebut potensi hutan seluas 3,6 juta hektare serta dukungan pemerintah terhadap ekonomi hijau sebagai modal untuk memperkuat posisi Indonesia dalam peta pariwisata berkelanjutan. Ke depan, Eqonique menyiapkan pengembangan eco-lodge berstandar internasional, memperluas kerja sama global, serta mengoptimalkan platform digital untuk menjangkau wisatawan milenial dan Gen Z yang peduli lingkungan.

