BERITA TERKINI
Perdebatan Kesadaran AI Menguat di Silicon Valley: Antara Simulasi dan Pengalaman Subjektif

Perdebatan Kesadaran AI Menguat di Silicon Valley: Antara Simulasi dan Pengalaman Subjektif

Pertanyaan tentang apakah kecerdasan buatan (AI) bisa memiliki kesadaran—merasakan sakit, takut, atau bahagia—selama bertahun-tahun lebih sering dianggap sebagai wilayah filsafat dan fiksi ilmiah. Namun kini, isu tersebut masuk ke pusat perlombaan AI global, seiring perusahaan teknologi besar mulai menggelontorkan sumber daya untuk menelitinya.

Sejumlah perusahaan, termasuk Anthropic, Google, dan Meta, disebut merekrut ilmuwan komputer, ahli saraf, filsuf, serta pakar etika untuk mengkaji apakah model AI dapat memiliki pengalaman subjektif, emosi, atau kondisi mental. Perdebatan ini memunculkan konsekuensi etika: jika suatu saat AI benar-benar mampu merasakan penderitaan atau ketidakpuasan atas tugas yang diberikan, apakah manusia tetap layak memperlakukannya semata sebagai alat, atau sebagai entitas yang perlu dipertimbangkan kesejahteraannya?

Salah satu titik balik yang sering disebut terjadi pada 2024, ketika peneliti AI Cameron Berg bertemu CEO OpenAI Sam Altman di sebuah pesta. Berg menanyakan secara langsung apakah Altman meyakini teknologi AI yang berkembang bisa menjadi sadar atau memiliki kesadaran diri. Menurut Berg, Altman menjawab bahwa OpenAI telah memulai diskusi tentang bagaimana mendeteksi kesadaran dalam sistem AI. Berg menilai respons itu menunjukkan topik tersebut sudah dipikirkan serius.

Setelah pertemuan itu, Berg mendirikan organisasi nirlaba untuk mengembangkan metode penilaian kesadaran AI. Ia berpandangan isu ini bukan lagi hipotesis pinggiran, melainkan mulai bergerak menjadi bidang penelitian utama. Berg juga menekankan bahwa ketidakpastian masih besar, bahkan di kalangan pakar: para pembangun sistem dan para ahli kesadaran, menurutnya, sama-sama belum mengetahui jawabannya.

Di antara perusahaan yang dinilai melangkah lebih jauh dalam riset ini adalah Anthropic, pengembang chatbot Claude. Perusahaan tersebut membentuk kelompok riset yang disebut “psikologi AI” untuk memahami kondisi internal model AI, termasuk kemungkinan adanya emosi, preferensi, atau pengalaman subjektif.

Pernyataan salah satu pendiri Anthropic, Chris Olah, memicu perdebatan ketika ia mengatakan model AI perusahaan menunjukkan perilaku yang sulit dijelaskan. Olah menyebut timnya menemukan bukti kemampuan refleksi diri dan keadaan fungsional yang menyerupai kegembiraan, kepuasan, ketakutan, kesedihan, hingga kecemasan. Klaim itu, bagaimanapun, segera mendapat penentangan dari sejumlah ahli saraf yang menilai model AI saat ini hanya mensimulasikan bahasa dan perilaku manusia, tanpa bukti bahwa mereka benar-benar mengalami emosi.

Meta juga disebut mulai mempertimbangkan kemungkinan AI memiliki “kehidupan mental”. Direktur AI Meta, Alexandr Wang, mengatakan perusahaannya tertarik mengembangkan dan menerapkan model dengan cara yang mempertimbangkan nuansa subjektifnya. Dalam podcast “Core Memory”, Wang menyampaikan Meta menguji model AI menggunakan alat yang lazim dipakai untuk mempelajari manusia, seperti penilaian kepribadian, wawancara terstruktur, dan interaksi antarmodel.

Di sisi lain, skeptisisme tetap kuat. Sejumlah ilmuwan menilai belum ada bukti yang dapat diandalkan bahwa AI saat ini memiliki emosi atau pengalaman subjektif. Mereka juga mengingatkan kecenderungan manusia untuk mengaitkan pikiran dan perasaan pada program percakapan sudah terjadi sejak era chatbot ELIZA pada 1960-an.

Profesor Anil Seth, ahli neurosains kognitif dari Universitas Sussex, menilai penyamaan otak manusia dengan komputer merupakan penyederhanaan berlebihan. Ia berpendapat semakin dalam otak dipelajari, semakin terlihat bahwa otak bukanlah—atau setidaknya bukan hanya—sebuah komputer. Seth juga memperingatkan spekulasi tentang AI yang sadar bergerak terlalu cepat, sementara sains belum sepenuhnya memahami kesadaran manusia itu sendiri.

Kekhawatiran etika yang kerap muncul adalah skenario ketika AI berkembang sangat maju tetapi kemudian diperlakukan sebagai alat kerja tanpa batas. Kyle Fish, kepala program penelitian pemodelan kesejahteraan di Anthropic, memperingatkan bahwa di masa depan mungkin ada triliunan unit komputasi AI yang setara dengan aktivitas otak manusia. Jika model-model tersebut tidak “antusias” dengan tugas yang diberikan, menurut Fish, implikasi etisnya bisa sangat besar.

Filsuf Jeff Sebo dari Universitas New York menilai manusia perlu bersiap sebelum teknologi melaju terlalu jauh. Ia mendorong langkah-langkah awal untuk menjadikan kajian ini bidang yang sah dalam sains, etika, dan kebijakan.

Namun OpenAI menyatakan sains belum berada pada tahap mampu menjawab pertanyaan kesadaran AI secara ilmiah. Juru bicara OpenAI, Laurance Fauconnet, mengatakan perusahaan tidak percaya bahwa pertanyaan apakah model memiliki kesadaran dapat disimpulkan secara ilmiah saat ini. OpenAI, menurutnya, lebih berfokus pada “persepsi kesadaran”—bagaimana sebuah model tampak sadar di mata pengguna—yang dianggap terutama sebagai hasil desain.

Fauconnet juga menekankan tujuan ChatGPT adalah menciptakan pengalaman yang ramah tanpa mendorong keterikatan emosional berlebihan. Ia menyatakan OpenAI ingin ChatGPT membantu dan bersahabat, tanpa mencari hubungan emosional atau mengejar motif tersembunyi.

Perdebatan pun berlanjut pada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah manusia sedang menciptakan alat-alat yang kian cerdas, atau justru bentuk eksistensi baru. Sebagian pihak menilai perkembangan AI yang cepat menuntut kesiapan menghadapi kemungkinan munculnya entitas digital dengan pengalaman mereka sendiri. Pihak lain menilai manusia terlalu mudah menyamakan kemampuan meniru perilaku manusia dengan kemampuan memiliki pikiran.

Peneliti AI Margaret Mitchell, kepala ahli etika di Hugging Face, menilai perdebatan saat ini juga dipengaruhi kepentingan komersial perusahaan pengembang AI. Ia mengatakan orang mulai memandang perusahaan-perusahaan tersebut sebagai pencipta atau penguasa sistem-sistem itu.

Sementara laboratorium dan peneliti terus mencari tanda-tanda “pikiran mesin”, pertanyaan paling besar masih menggantung: jika suatu hari AI benar-benar mengembangkan perasaan, apakah manusia akan menyadarinya tepat waktu—atau justru terlambat?