BERITA TERKINI
Mono Kunjungi Hue, Diundang Jadi Duta Warisan Budaya di Tengah Upaya Meremajakan Promosi Warisan

Mono Kunjungi Hue, Diundang Jadi Duta Warisan Budaya di Tengah Upaya Meremajakan Promosi Warisan

Hampir sepekan setelah dirilis, video musik The Poet Prince mendapat perhatian karena sinematografinya yang dinilai menonjol. Pengambilan gambar dilakukan di Benteng Kekaisaran Hue, menampilkan sejumlah elemen ikonik seperti Gerbang Ngo Mon, halaman dan koridor istana, busana tradisional ao dai, serta kecapi bulan. Perpaduan visual tersebut dengan pengaruh Mono disebut turut menyebarkan citra warisan budaya kepada publik, terutama kalangan muda.

Meski tidak disamakan dengan demam Bac Bling karya Hoa Minzy, Tuan Cry, dan Xuan Hinh, pemanfaatan video musik untuk mempromosikan destinasi dan menarik wisatawan disebut kian menjadi tren. Dalam konteks ini, Hue juga terlihat mencoba arah baru: meremajakan cara mendekati dan mempresentasikan warisan budaya.

Langkah tersebut terlihat dalam acara peluncuran Cong Tu Van Tho, ketika Mono secara resmi diundang menjadi “Duta Warisan Budaya” Hue. Penunjukan ini mengejutkan sebagian pihak karena citra Mono yang muda dan segar dinilai kontras dengan nilai-nilai tradisional yang melekat pada benteng dan kuil-kuil tua di Hue.

Bagaimana Mono akan menyeimbangkan citra personalnya dengan peran sebagai duta, sekaligus membawa pesan warisan Hue kepada publik, masih belum diketahui. Namun, acara tersebut dipandang menyampaikan pesan tentang upaya menjembatani generasi dalam pelestarian dan promosi nilai-nilai warisan, melalui keberanian untuk keluar dari kebiasaan lama.

Kunjungan Mono ke Hue merupakan bagian dari program “Pekan Musik Internasional Hue” yang digelar di panggung terbuka di tepi Sungai Perfume. Program ini mempertemukan talenta muda dari ranah musik kontemporer dan tradisional, melibatkan peserta dari Vietnam, Korea, Prancis, dan negara-negara lain. Penyelenggara berharap kegiatan tersebut dapat menghadirkan sorotan baru bagi Festival Hue 2026 melalui pendekatan yang berbeda.

Pembukaan pekan musik itu diisi program “25 Tahun Mengenang Trinh Cong Son” yang dihadiri ribuan penonton. Di suasana sejuk tepi Sungai Perfume, penonton duduk di rerumputan, menyatu dengan alam, dan menyalakan lampu saat mendengarkan lagu “Pink Rain” dalam gaya rap Ha Le.

Bagi sebagian pencinta musik Trinh Cong Son, modernisasi karya-karya sang komposer dapat memunculkan kegelisahan dan keraguan, mengingat citra Khanh Ly dengan ao dai-nya yang melekat kuat dalam memori emosional sebuah generasi. Namun, dengan pendekatan yang tidak konvensional dari Tan Son serta pesona muda dan lembut Bui Lan Huong, lagu-lagu melankolis Trinh Cong Son disebut diterima dalam versi baru, berlatar pantulan kuil-kuil tua di Sungai Perfume.

Sejalan dengan gagasan itu, warisan Hue juga dinilai perlu “membuka pintu” ke dunia melalui jembatan generasi muda. Kunjungan Mono dipandang sebagai salah satu pesan awal. Meski demikian, langkah tersebut disebut perlu diikuti strategi dan peta jalan yang jelas agar warisan Hue tetap menjaga keseimbangan antara yang kuno dan yang kontemporer, antara pelestarian dan pengembangan, terutama ketika estafet tanggung jawab pelestarian semakin bergeser ke generasi muda.