Secara biologis, manusia membawa jejak ibu yang terus bertahan di dalam tubuh. Salah satu penjelasan ilmiahnya terkait mitokondria, bagian sel yang kerap disebut sebagai “pembangkit tenaga” karena berperan menghasilkan energi untuk berbagai proses tubuh.
Dalam proses pembuahan, sel sperma dan sel telur sama-sama berkontribusi pada DNA inti yang membentuk identitas genetik seorang anak. Namun, terdapat perbedaan penting dalam pewarisan mitokondria. Meski sperma memiliki mitokondria yang dibutuhkan untuk bergerak menuju sel telur, mitokondria dari pihak ayah disebut akan hancur atau tidak diterima masuk setelah pembuahan terjadi. Dengan demikian, mitokondria yang ada dalam tubuh anak berasal dari ibu.
Mitokondria juga memiliki materi genetik sendiri yang terpisah dari DNA inti, yaitu DNA mitokondria (mtDNA). Dalam penjelasan tersebut, mtDNA diturunkan dari ibu tanpa bercampur dengan DNA ayah, sehingga diwariskan secara utuh tanpa rekombinasi genetik.
Konsekuensinya, kode genetik pada mtDNA seseorang disebut sebagai salinan yang sangat dekat dengan mtDNA ibunya, dan dapat ditelusuri ke generasi sebelumnya melalui garis ibu. Para ilmuwan memanfaatkan mtDNA untuk melacak garis keturunan manusia, termasuk temuan yang menyebut seluruh manusia dapat ditelusuri kembali pada satu nenek moyang perempuan purba yang diperkirakan hidup sekitar 150.000 tahun lalu di Afrika, yang dikenal dengan julukan “Mitochondrial Eve”.
Melalui mekanisme pewarisan tersebut, mitokondria dipandang sebagai salah satu bentuk jejak biologis ibu yang menetap di dalam sel-sel tubuh manusia dari generasi ke generasi.