BERITA TERKINI
Penyitaan Buku oleh Polisi Disorot di Tengah Rendahnya Kemampuan Membaca Siswa Indonesia

Penyitaan Buku oleh Polisi Disorot di Tengah Rendahnya Kemampuan Membaca Siswa Indonesia

Polisi menyita sejumlah buku sebagai barang bukti saat menangkap tersangka kerusuhan dalam unjuk rasa yang menuntut pembubaran Dewan Perwakilan Rakyat pada akhir Agustus 2025. Buku-buku yang disita antara lain Pemikiran Karl Marx karya Franz Magnis Suseno, Anarkisme karya Emma Goldman, Kisah Para Diktator karya Jules Archer, serta novel Anak Semua Bangsa karya Pramoedya Ananta Toer.

Polisi menyatakan penyitaan dilakukan berdasarkan proses penyidikan yang faktual. Namun, hingga kini polisi belum menjelaskan kaitan buku-buku tersebut dengan dugaan tindak pidana yang disangkakan kepada para tersangka.

Praktik penyitaan buku bukan hal baru. Pada era pemerintahan Joko Widodo, polisi juga pernah merampas buku-buku yang ditengarai memuat ajaran komunisme.

Tindakan penyitaan itu memicu kritik dari kalangan akademikus dan kelompok masyarakat sipil. Direktur Maarif Institute, Andar Nubowo, menilai langkah tersebut berlebihan dan mencerminkan sikap anti-intelektual. “Buku itu adalah sumber pengetahuan dan tidak ada kaitannya dengan tindakan apa pun, apalagi tindakan pidana yang dilakukan seseorang,” kata Andar di Jakarta, Jumat, 19 September 2025.

Perdebatan mengenai penyitaan buku ini muncul di tengah kondisi kemampuan membaca siswa Indonesia yang masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara lain di Asia Tenggara. Sejumlah pihak menilai aktivitas membaca semestinya didorong dan diperkuat, bukan justru dicurigai sebagai pemicu kerusuhan.

Studi Programme for International Student Assessment (PISA) yang diselenggarakan Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) pada 2022 mencatat skor membaca pelajar Indonesia sebesar 359. Capaian tersebut tertinggal dibandingkan lima negara Asia Tenggara, dengan posisi Indonesia hanya lebih baik daripada Filipina dan Kamboja.

Skor kemampuan membaca pelajar Indonesia juga menunjukkan kecenderungan menurun sejak 2009. Peneliti pendidikan dari University of Twente, Shintia Revina, menyebut sekitar 70% siswa Indonesia tidak mampu mencapai level II dalam kategori membaca PISA. Level ini mengharapkan siswa dapat menentukan ide utama dalam teks, mencari hubungan berbagai informasi dalam teks, serta menarik kesimpulan sederhana dari bacaan.

“Secara rata-rata, hanya sekitar 23 persen siswa dari 79 negara peserta PISA yang tidak mampu menguasai kemampuan membaca level II,” kata Shintia.