Penulis terlaris Korea Selatan, Baek Se-hee, meninggal dunia pada usia 35 tahun. Baek dikenal luas melalui buku berjudul I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki.
Badan Donasi Organ Korea (Korea Organ Donation Agency) menyatakan Baek telah menyelamatkan lima nyawa melalui donasi organ. Organ yang didonasikan meliputi jantung, paru-paru, hati, dan ginjal.
Donasi tersebut dilakukan melalui prosedur donasi organ pada kondisi mati otak sehari sebelum Baek meninggal. Hingga kini, detail lebih lanjut terkait penyebab kematiannya belum diungkapkan.
Adik perempuan Baek, seperti dikutip The Korea Herald, menyampaikan harapan agar kakaknya dapat beristirahat dengan tenang. Ia menyebut Baek ingin terus menulis, membagikan isi hatinya kepada orang lain melalui karya, dan menginspirasi harapan.
Buku Baek yang terbit pada 2018 itu disebut merupakan gabungan esai dan panduan swadaya. Karya tersebut berisi refleksi tentang perjuangannya menghadapi depresi distimia atau gangguan depresi persisten, termasuk pengalaman sesi terapi dengan psikiater.
Buku itu mendapat sambutan luas karena gaya penyampaian yang lugas dan upayanya mengurangi stigma terkait penyakit mental di Korea. Dalam salah satu wawancara sebelumnya, Baek mengatakan ia menyadari bahwa perasaan “hati yang terluka” dapat dirasakan serupa di berbagai bahasa dan budaya, sekaligus menyadarkan bahwa banyak orang memikul luka batin yang mendalam dan membutuhkan keberanian untuk mengakui bahwa dirinya tidak baik-baik saja.
Distimia atau gangguan depresi persisten (PDD) adalah kondisi depresi ringan hingga sedang yang berlangsung lama dan tidak kunjung membaik. Gejala utamanya meliputi suasana hati sedih, rendah diri, atau muram, disertai gejala lain yang dapat muncul hampir setiap hari seperti kelelahan, perasaan putus asa atau tidak berharga, perubahan nafsu makan, kesulitan konsentrasi, energi terbatas, harga diri rendah, kesulitan berprestasi di sekolah atau tempat kerja, serta gangguan tidur.
Para ilmuwan belum sepenuhnya memahami penyebab gangguan depresi persisten. Salah satu kemungkinan yang disebut adalah adanya koneksi abnormal antarbagian otak yang mengganggu komunikasi sel-sel otak. Kondisi ini dilaporkan lebih sering memengaruhi perempuan dan cenderung diturunkan dalam keluarga biologis.

