Kedekatan kuda dengan manusia kerap memunculkan pertanyaan tentang cara membaca suasana hati hewan tersebut. Salah satu perilaku yang sering terlihat adalah dengusan. Selama ini, dengusan kuda kerap dianggap sekadar cara membersihkan debu dari hidung atau mengusir serangga.
Namun, Mathilde Stomp dari Universite de Rennes, Perancis, menyebut dengusan dapat menjadi indikator emosi positif pada kuda. Secara teknis, dengusan merupakan sinyal non-vokal yang muncul dari ekspirasi udara melalui lubang hidung. Menurut Stomp, perilaku ini berkaitan erat dengan suasana dan kondisi yang positif pada kuda.
Dalam penelitiannya, Stomp mengevaluasi dengusan pada 48 kuda dengan kondisi hidup berbeda: kuda yang dikekang dan kuda yang dilepas bebas, yakni yang selalu berada di padang rumput. Selama pengujian, tercatat total 560 kali dengusan, dengan variasi dari rata-rata 0,75 kali per jam pada satu kuda hingga 12,8 kali per jam pada kuda lainnya.
Hasil penelitian menunjukkan kuda yang dilepas di padang rumput menghasilkan dengusan lebih banyak dibanding kuda yang dikandangkan. Perbedaan frekuensinya bahkan dapat mencapai dua kali lipat.
Stomp juga menemukan bahwa dengusan paling sering terjadi ketika kuda sedang makan atau mengeksplorasi tempat. Sebaliknya, tidak ada kuda yang mendengus ketika bersikap agresif terhadap manusia. Temuan ini menguatkan dugaan bahwa produksi dengusan memiliki kaitan signifikan dengan situasi serta keadaan internal yang positif, serupa dengan gestur tubuh.
“Kuda sangat jarang menunjukkan tanda kebahagian yang berbeda-beda. Hasil ini menyajikan pedoman penting bahwa ketika dengusan muncul, itu adalah indikasi emosi positif yang dapat membantu mengenali situasi seperti apa yang disenangi oleh kuda,” ujar Stomp.
Para ilmuwan menyatakan temuan tersebut berpotensi membantu peningkatan kesejahteraan kuda. Dengan memahami dengusan sebagai petunjuk emosi positif, pemilik dapat lebih mudah mengenali situasi yang membuat kuda merasa nyaman dan bahagia.

