Melakukan tindakan kebaikan sederhana—seperti memberi tumpangan atau membelikan makanan dan minuman—dapat meningkatkan kebahagiaan orang yang memberi. Sejumlah temuan juga menunjukkan, kebaikan tidak berhenti pada penerima pertama, melainkan dapat mendorong penerima untuk melakukan hal serupa kepada orang lain.
Kesimpulan itu antara lain muncul dari penelitian yang dilakukan Amit Kumar dari The University of Texas Austin McCombs School of Business bersama Nicholas Epley dari University of Chicago. Kajian mereka dilaporkan dalam Journal of Experimental Psychology: General pada Kamis (18/8/2022).
Eksperimen cokelat panas: pemberi meremehkan dampaknya
Dalam salah satu studi, peneliti merekrut 84 peserta di Chicago's Maggie Daley Park. Para peserta diberi pilihan untuk memberikan secangkir cokelat panas kepada orang asing dari kios makanan di taman atau menyimpannya sendiri. Sebanyak 75 orang memilih untuk memberikannya.
Peneliti kemudian mengantarkan cokelat panas kepada orang asing tersebut dan menyampaikan bahwa minuman itu diberikan karena pilihan peserta penelitian. Penerima diminta melaporkan suasana hati mereka, sementara pemberi diminta memperkirakan bagaimana perasaan penerima setelah menerima minuman.
Hasilnya, para pemberi cenderung meremehkan dampak positif tindakannya. Mereka memperkirakan suasana hati penerima rata-rata 2,7 pada skala minus 5 (jauh lebih negatif dari biasanya) hingga 5 (jauh lebih positif dari biasanya). Namun, penerima melaporkan rata-rata 3,5.
“Orang kebanyakan mengerti bahwa bersikap baik kepada orang lain membuat mereka merasa baik. Apa yang tidak diketahui sebelumnya adalah seberapa baik itu yang benar-benar dirasakan orang lain (yang mendapat pemberian),” kata Kumar.
Eksperimen cupcakes: nilai tindakan hangat itu sendiri
Peneliti juga melakukan eksperimen serupa di lokasi yang sama dengan menggunakan cupcakes. Mereka merekrut 200 peserta dan membaginya menjadi dua kelompok.
- Kelompok kontrol: 50 peserta menerima kue sebagai kompensasi partisipasi dan menilai suasana hati mereka. Sebanyak 50 orang lainnya menilai bagaimana perasaan penerima setelah mendapatkan kue tersebut.
- Kelompok kedua: terdiri dari 100 orang; 50 orang diberi tahu bahwa mereka dapat memberikan kue mereka kepada orang asing. Mereka menilai suasana hati mereka sendiri dan memperkirakan suasana hati penerima.
Peneliti menemukan, peserta menilai kebahagiaan penerima kue pada tingkat yang hampir sama, baik ketika cupcake diperoleh dari tindakan kebaikan acak maupun langsung dari peneliti. Namun, penerima yang menerima kue melalui tindakan kebaikan dilaporkan lebih bahagia dibanding penerima pada kelompok kontrol.
“Peserta tidak sepenuhnya memperhitungkan bahwa tindakan hangat mereka memberikan nilai dari tindakan itu sendiri,” kata Kumar. “Fakta bahwa Anda bersikap baik kepada orang lain menambah banyak nilai lebih dari apa pun itu,” tambahnya.
Ketika kebaikan menular: lebih dermawan kepada orang lain
Dalam percobaan laboratorium, Kumar dan Epley menambahkan komponen untuk menilai konsekuensi lanjutan dari kebaikan. Peserta pertama-tama menerima hadiah atau diberi hadiah oleh peserta lain, lalu mengikuti permainan. Semua peserta yang menerima item diberi tahu untuk membagi 100 dollar AS antara mereka dan penerima studi yang tidak diketahui.
Hasilnya, peserta yang menerima hadiah melalui tindakan kebaikan acak dari peserta lain cenderung lebih murah hati kepada orang asing dalam permainan tersebut. Mereka membagi 100 dollar AS lebih merata, dengan rata-rata 48,02 dollar AS, dibanding 41,20 dollar AS.
Dari rangkaian eksperimen itu, peneliti menyimpulkan bahwa penerima kebaikan cenderung menjadi lebih dermawan. “Ternyata kedermawanan sebenarnya bisa menular,” kata Kumar. “Penerima tindakan prososial dapat membayarnya. Kebaikan sebenarnya bisa menyebar.”
Kebaikan dan kesejahteraan emosional
Sejumlah penelitian lain juga mengaitkan tindakan prososial—seperti menyumbangkan uang, menjadi sukarelawan, dan melakukan pendampingan—dengan peningkatan kesehatan emosional pemberi.
Kajian Sonja Lyubomirsky, profesor psikologi di University of California, Riverside, yang dipublikasikan di Journal of Positive Psychology (2019) menunjukkan bahwa tindakan kebaikan dapat meningkatkan kesejahteraan. Dalam kajian tersebut, ketika peserta mengingat momen seperti memeluk kakek-nenek atau membeli makan siang untuk rekan kerja, kebahagiaan mereka meningkat sebanyak ketika mereka melakukan tindakan tersebut.
Beberapa studi juga menghubungkan kebaikan dengan pelepasan neurotransmiter dan hormon yang berkontribusi pada suasana hati dan kebahagiaan. Oksitosin disebut memiliki manfaat bagi kesehatan secara keseluruhan karena efek anti-inflamasi, pro-imunitas, dan anti-stres.
“Kebaikan, apakah itu dialami melalui tindakan kebaikan yang dilakukan secara acak, meditasi cinta kasih atau cara lain, memiliki dampak besar pada kesejahteraan seseorang,” kata Waguih William IsHak, profesor dan kepala klinis psikiatri di Cedars-Sinai, Los Angeles.
Selain kebahagiaan, peneliti juga mempelajari bagaimana altruisme dapat berdampak pada kesehatan fisik secara terukur, misalnya terkait tekanan darah atau sistem kekebalan tubuh. Studi awal menunjukkan membelanjakan uang untuk orang lain dapat meningkatkan kesehatan kardiovaskular pada orang dewasa yang lebih tua dan berisiko yang didiagnosis mengalami tekanan darah tinggi.

