BERITA TERKINI
Pencalonan Denny JA untuk Nobel Sastra dan Empat Babak Kontroversi Puisi Esai di Indonesia

Pencalonan Denny JA untuk Nobel Sastra dan Empat Babak Kontroversi Puisi Esai di Indonesia

Pencalonan Denny JA untuk Nobel Sastra 2022 memicu perdebatan di kalangan publik sastra Indonesia. Isu ini kembali menyorot perjalanan puisi esai—bentuk penulisan yang digagas Denny JA dan kerap disebut sebagai genre baru—yang sejak kemunculannya telah melalui sejumlah gelombang pro dan kontra.

Kontroversi terbaru muncul menjelang akhir 2021, ketika komunitas puisi esai menyampaikan nama Denny JA sebagai kandidat Nobel Sastra 2022. Pencalonan itu disebut berawal dari undangan Panitia Nobel, The Swedish Academy, kepada komunitas puisi esai untuk mengajukan sastrawan Indonesia dalam kompetisi Nobel Sastra tahun 2022.

Di Indonesia, kabar tersebut memunculkan respons beragam. Sebagian pihak mendukung, sementara yang lain menolak. Perdebatan berlangsung di berbagai media cetak dan media sosial sejak akhir 2021 hingga awal 2022. Pada tahap pencalonan saja, isu ini sudah menimbulkan kehebohan—yang oleh sebagian pihak dapat dipandang sebagai kekuatan, namun juga bisa dianggap sebagai titik lemah, bergantung pada penilaian pihak Nobel.

Puisi esai dan posisi Denny JA

Pencalonan Denny JA tidak terlepas dari puisi esai, yang menjadi identitasnya di dunia sastra. Dalam perkembangannya, puisi esai diklaim sebagai genre baru dalam sastra Indonesia. Namun, perdebatan tidak hanya menyasar bentuk karya tersebut, melainkan juga sosok Denny JA sebagai penggagasnya.

Dalam catatan penulis artikel asli, dinamika pro-kontra itu telah memasuki “babak keempat” pada 2021, berbarengan dengan kabar pencalonan Nobel Sastra.

Perbandingan dengan kisah Van Gogh

Artikel asli juga mengaitkan kontroversi ini dengan kisah Vincent van Gogh. Van Gogh disebut sebagai seniman besar yang karyanya ditolak pada zamannya. Ia menghasilkan lebih dari 800 lukisan semasa hidup, namun hanya satu yang umumnya dianggap terjual ketika ia masih hidup, yakni The Red Vineyard at Arles (Kebun Anggur Merah di Arles), yang kini tersimpan di Museum Seni Rupa Pushkin di Moskow.

Van Gogh (30 Maret 1853–29 Juli 1890) dikenal sebagai pelukis Pasca-Impresionis Belanda yang secara anumerta menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah seni Barat. Dalam satu dekade, ia menciptakan sekitar 2.100 karya seni, termasuk sekitar 860 lukisan cat minyak, yang sebagian besar dibuat pada dua tahun terakhir hidupnya.

Dalam artikel tersebut, Van Gogh digambarkan membawa gaya revolusioner yang kemudian dikenal sebagai ekspresionisme, tetapi mengalami penolakan besar pada masa hidupnya hingga sempat dirawat di rumah sakit jiwa. Artikel itu juga menyebut bahwa pada 1990, lukisan “Potret Dr. Gachet” terjual dengan harga rekor dunia 82 juta dolar AS, yang dikonversi sekitar Rp1,2 triliun.

Denny JA kemudian dibandingkan sebagai sosok yang “lebih beruntung” karena inovasi puisi esainya disebut telah diakui dan memperoleh penghargaan dari dalam maupun luar negeri ketika ia masih hidup, meski tetap menuai penentangan.

Empat babak kontroversi puisi esai

Penulis artikel asli membagi kontroversi puisi esai ke dalam empat babak utama, yang masing-masing dipicu peristiwa berbeda.

  • Babak Pertama (2012): Peluncuran buku puisi esai pertama Denny JA berjudul Atas Nama Cinta (Renebook, 2012). Setelah terbit, pro-kontra merebak di kalangan publik sastra. Perdebatan tidak hanya menyasar bentuk “puisi esai”, tetapi juga kehadiran Denny JA yang sebelumnya dikenal luas di ranah politik melalui Lingkaran Survei Indonesia (LSI).
  • Babak Kedua (2014): Terbitnya buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh (KPG, 2014) yang disusun Tim 8 dengan koordinator Jamal D. Rahman. Dalam buku tersebut, Denny JA dimasukkan sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh karena dianggap menggagas dan merintis puisi esai di Indonesia. Pencantuman ini memicu reaksi keras dari pihak yang menolak, terutama karena Denny JA dinilai disejajarkan dengan nama-nama besar seperti Amir Hamzah, Sutan Takdir Alisjahbana, Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, H.B. Jassin, Arief Budiman, dan Rendra.
  • Babak Ketiga (2018): Program nasional penulisan puisi esai di 34 provinsi. Gerakan ini melibatkan lima penulis per provinsi dan menghasilkan 34 buku seri antologi yang memuat karya 170 penulis, berisi potret batin serta isu sosial yang dianggap menonjol di masing-masing daerah. Pada akhir 2018, buku-buku itu diluncurkan di Jakarta dan diikuti program peresensian. Artikel tersebut juga menyebut ratusan puisi esai dari berbagai provinsi digubah ke layar lebar menjadi film.
  • Babak Keempat (2021): Kontroversi terkait kabar pencalonan Denny JA untuk Nobel Sastra 2022, yang kembali memanaskan perdebatan di ruang publik sastra Indonesia.

Penolakan, petisi, dan perdebatan terbuka pada 2018

Pada 2018, gerakan puisi esai mendapat perlawanan dari kelompok kontra. Artikel tersebut menyebut adanya petisi penolakan program penulisan puisi esai nasional yang memuat slogan: “Menolak puisi esai, menghapus nama Denny JA dari sastra Indonesia, menolak pembodohan sejarah sastra Indonesia, bebaskan sastra Indonesia dari racun manipulasi.” Petisi itu ditandatangani ratusan penyair, terutama penyair muda, dan dikoordinasi Ramon Apta, lalu dikirim ke sejumlah instansi, termasuk Kemendikbud, Kemenristekdikti, Kementerian Pariwisata, Badan Bahasa, Hiski, Komite Buku Nasional, Perpustakaan Nasional, dan Ikapi.

Di luar petisi, kelompok kontra juga membentuk GAS (Gerakan Anti Skandal Sastra) yang menerbitkan buku antologi opini Skandal Sastra Undercover, berisi artikel-artikel penolakan terhadap puisi esai Denny JA. GAS disebut dikoordinasi Sosiawan Leak, dengan tim pendukung antara lain Sofyan RH. Zaid, Dedy Tri Riyadi, Ahmadun Yosi Herfanda, Dino Umahuk, dan Sihar Ramses Simatupang.

Perdebatan juga terjadi lewat diskusi. Artikel tersebut mencatat diskusi di Jakarta pada 16 Februari 2018 yang mempertemukan Narudin Pituin (pro) dengan Saut Situmorang (kontra), serta Kamerad Kanjeng (pro) dengan Eko Tunas (kontra). Diskusi lanjutan pada 9 Maret 2018 di tempat yang sama disebut melibatkan Denok Kristianti, Rasiah, dan Sastri Sunarti tanpa kehadiran pihak kontra. Diskusi berikutnya pada 6 April 2018 menghadirkan D. Kemalawati, Heri Mulyadi, Anggia Budiarti, Muhammad Thobroni, Hamri Manopo, dan Teguh Supriyanto, juga tanpa pihak kontra.

Sementara itu, pihak kontra disebut menggelar diskusi di Bandung pada 13 Maret 2018 yang dimotori harian Pikiran Rakyat dengan tema “Membongkar Kebohongan Angkatan Penyair Puisi Esai”, menghadirkan Ahda Imran, Hikmat Gumelar, Ari Purwawidjana, Heru Hikayat, dan Yana Risdiana.

Perdebatan yang belum usai

Menurut artikel asli, rangkaian kontroversi sejak 2012, 2014, 2018, hingga 2021 telah memicu gairah dan dorongan baru bagi sebagian sastrawan untuk berkarya. Namun, pertanyaan tentang masa depan puisi esai tetap terbuka, terutama terkait keberlanjutannya di luar figur penggagasnya.