BERITA TERKINI
Pembacaan Naskah Drama Tanpa Suara: Enam Penampil Bertutur Lewat Bahasa Isyarat

Pembacaan Naskah Drama Tanpa Suara: Enam Penampil Bertutur Lewat Bahasa Isyarat

Enam laki-laki duduk di atas kursi panggung dalam suasana temaram. Dari kejauhan, mereka tampak seperti sedang berdialog dengan serius. Namun tak ada suara yang terdengar. Mereka menghadap sebuah layar monitor televisi di pinggir panggung, tempat baris-baris kalimat dari naskah drama Sebuah Kabar dari Pelaminan ditampilkan untuk dibaca.

Dalam pembacaan naskah itu, para penampil memerankan tokoh laki-laki dan perempuan. Mereka yang berperan sebagai perempuan mengerudungkan kain di atas kepala, sementara yang memerankan laki-laki mengenakan kaus dan berbalut kemeja. Kalimat demi kalimat yang terbaca diterjemahkan melalui gerak tangan, membentuk isyarat yang menjadi bahasa pertunjukan.

Beberapa gerakan hanya dapat dipahami oleh pengguna bahasa isyarat, tetapi ada pula yang mudah dimengerti banyak orang. Di antaranya, gerakan menekuk kedua telunjuk di sudut bibir untuk menggambarkan gigi taring, atau mengangkat kedua telunjuk di atas kepala sebagai simbol setan.

Selain mengandalkan visual gerak tangan, para penampil juga menuturkan naskah lewat mimik wajah. Ekspresi sedih, marah, kesal, hingga gembira tampak jelas. Bibir mereka bergerak komat-kamit, tetapi tetap tanpa suara.

Sepanjang pementasan, tidak ada bebunyian yang menjadi latar. Penonton pun memilih diam, menyaksikan pembacaan lakon dalam suasana hening dan tenang. Untuk memahami jalan cerita, penonton mengikuti teks naskah yang disorotkan di layar latar panggung, sembari memperhatikan gerak para penampil.

Selama 15 menit pertunjukan, perhatian penonton terbagi antara membaca naskah di layar dan menangkap isyarat serta ekspresi yang ditampilkan enam pembaca.

IDRF tunarungu.