JAKARTA — Pakar hubungan internasional Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah, menilai Indonesia perlu mengambil langkah strategis agar tidak hanya menjadi penghubung, tetapi juga penggerak agenda dalam kerja sama Asia-Eropa.
Rezasyah mengatakan Indonesia perlu terlebih dahulu memahami tantangan bersama menuju 2030, yakni perubahan iklim, serta persaingan untuk memperoleh dan mengolah energi terbarukan dan material langka.
Ia juga menilai Indonesia perlu memperkuat posisi ASEAN sebagai pusat pertumbuhan ekonomi berkualitas yang ditopang tata kelola yang baik, guna mempercepat kerja sama Asia-Eropa.
Selain itu, ia menyebut Indonesia perlu meyakinkan forum ASEM (Asia-Europe Meeting) mengenai kinerjanya dalam menerapkan ASEAN Outlook on the Indo-Pacific, dengan memastikan kerja sama pembangunan berjalan seiring dengan penciptaan lingkungan keamanan yang kondusif.
Rezasyah menambahkan, posisi Indonesia sebagai “jembatan” strategis antara Asia dan Eropa dapat dioptimalkan melalui sejumlah langkah. Menurutnya, dengan daya tawar kawasan yang tinggi serta jaringan pelabuhan laut dan udara yang tersebar di banyak pulau, posisi Indonesia di ASEM sangat strategis, selama negara mampu menunjukkan kinerja pada standar yang lebih tinggi dibanding saat ini.
Untuk membuat peran Indonesia lebih signifikan, ia menilai Indonesia perlu aktif membentuk agenda kerja sama dengan mendorong isu-isu strategis seperti ekonomi digital dan pembangunan berkelanjutan.
Rezasyah juga menilai relevansi ASEM tetap kuat di tengah melemahnya multilateralisme global saat ini, yang dipicu konflik di Timur Tengah, terutama terkait sikap Amerika Serikat yang dinilainya mudah mengancam keamanan sejumlah negara.
Di sisi lain, kelangkaan energi dan potensi perang yang meluas, menurutnya, mendorong negara-negara Asia dan Eropa meningkatkan koordinasi lebih dalam sambil tetap menjunjung kesepakatan yang ada.
Ia menyebut ASEM telah menunjukkan kualitasnya sebagai forum dialog ketika lembaga seperti WTO mengalami kebuntuan. Menurutnya, ASEM menyadari bahwa keterlambatan koordinasi dapat membuat pengaruhnya menurun di mata dunia.
Untuk memperkuat konektivitas Asia-Eropa di sektor perdagangan, investasi, dan teknologi, Rezasyah menilai Turki dapat menjadi contoh karena dinilai berhasil mengoptimalkan posisi geografisnya sebagai penghubung strategis Eurasia.