BERITA TERKINI
Nama Danantara Muncul dalam Bursa Calon Direksi BEI Jelang RUPS 2026

Nama Danantara Muncul dalam Bursa Calon Direksi BEI Jelang RUPS 2026

Dinamika jelang Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Bursa Efek Indonesia (BEI) yang direncanakan berlangsung pada Juni 2026 mulai mengemuka. Paket calon direksi BEI untuk periode 2026–2030 yang beredar di kalangan pelaku pasar tidak hanya berisi nama-nama dari industri pasar modal, tetapi juga memuat sosok yang dikaitkan dengan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).

Salah satu nama yang disebut-sebut maju sebagai calon Direktur Utama BEI adalah Direktur Utama Mandiri Sekuritas, Oki Ramadhana. Oki saat ini juga tercatat sebagai Komisaris BEI untuk periode 2024–2028. Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan dari Oki terkait rencana pencalonan tersebut.

Selain Oki, terdapat nama lain yang dinilai lebih langsung berafiliasi dengan Danantara, yakni Wuddy Warsono. Berdasarkan profil yang tercantum di LinkedIn, Wuddy menjabat sebagai senior advisor di holding investasi Danantara sejak Juli 2025 dan berada di bawah Chief Investment Officer (CIO) atau Pelaksana di Bidang Investasi, Pandu Patria Sjahrir.

Dalam rekam jejaknya, Wuddy pernah menjadi Principal di Heyokha Research pada 2015–2025. Pada periode yang sama, ia juga menjabat Komisaris di Sucor Sekuritas. Sebelumnya, Wuddy berkarier sebagai Country Manager CLSA Indonesia pada 2005–2014.

Isu mengenai besarnya kepentingan Danantara di pasar modal sebelumnya disampaikan CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani. Rosan menyebut kontribusi perusahaan terbuka BUMN yang berada di bawah Danantara mencapai hampir 30% dari total kapitalisasi pasar di bursa. Menurutnya, kondisi tersebut membuat Danantara memiliki kepentingan besar untuk ikut menjaga pasar modal Indonesia.

Di sisi lain, langkah Danantara memperkuat posisinya di industri pasar modal juga terlihat dari aksi korporasi melalui PT Danantara Asset Management (Persero). Danantara mengakuisisi empat manajer investasi (MI) milik bank BUMN dengan total nilai transaksi sekitar Rp 2,7 triliun dalam perjanjian jual beli bersyarat.

Berdasarkan keterbukaan informasi BEI, akuisisi dilakukan terhadap PT Mandiri Manajer Investasi dari PT Mandiri Sekuritas dengan nilai Rp 1 triliun untuk 1.499 saham atau sekitar 99,93% kepemilikan dan efektif pada 1 April 2026. Danantara juga mengambil alih PT BNI Asset Management dari PT BNI Sekuritas dengan nilai Rp 359,64 miliar untuk sekitar 99,9% saham pada tanggal yang sama.

Selain itu, Danantara mengakuisisi sekitar 65% saham PT BRI Manajemen Investasi atau setara 19,5 juta lembar senilai Rp 975 miliar. Akuisisi berikutnya adalah PT PNM Investment Management dari PT Permodalan Nasional Madani (Persero) sebanyak 99,999% atau 109.999 lembar senilai Rp 345 miliar, efektif 1 April 2026.

Sementara itu, nama Penjabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, juga disebut masuk dalam bursa kandidat. Jeffrey dikabarkan menyiapkan paket direksi bersama enam orang lainnya, yakni Irvan Susandy, R. Haidir Musa, Irwan Abdalloh, R. Mirwan, dan Atep Salyadi Dariah Saputra. Ketika ditemui wartawan di Gedung Mahkamah Agung, Jakarta, Jeffrey tidak membantah kabar tersebut dan menyatakan akan melanjutkan program-program pasar modal yang sudah berjalan. Ia juga menyampaikan komitmen untuk mendorong BEI menjadi bursa saham kelas dunia, sejalan dengan master plan BEI 2026–2030.

Dari sisi regulator, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fawzi, menyampaikan batas akhir pengajuan kandidat ditetapkan pada 27 April untuk posisi direksi Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan 4 Mei untuk direksi BEI. Hasan menjelaskan struktur direksi BEI terdiri dari tujuh orang dengan kompetensi berbeda sesuai bidang masing-masing dan setiap posisi membutuhkan keahlian khusus yang sesuai dengan fungsi operasional bursa.

Hasan mencontohkan, posisi direktur utama membutuhkan sosok dengan visi, kemampuan strategis, dan kepemimpinan yang kuat. Adapun direktur lain akan membawahi bidang-bidang tertentu, termasuk perdagangan yang menuntut pemahaman mendalam atas mekanisme dan penyelenggaraan perdagangan.

Terpisah, Direktur Eksekutif Asosiasi Emiten Indonesia (AEI), Gilman P. Nugraha, berharap direksi yang terpilih nantinya mampu mendorong kinerja bursa, terutama di tengah rencana percepatan demutualisasi yang dinilai dapat membuat bursa semakin kompetitif secara global. Ia menekankan bahwa bursa tidak hanya bertanggung jawab kepada pemegang saham, tetapi juga perlu memberikan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari investor, perusahaan sekuritas, hingga emiten.

Gilman juga menilai kandidat dari internal maupun eksternal masing-masing memiliki keunggulan. Menurutnya, kandidat internal cenderung lebih kuat dari sisi regulasi, kepatuhan, dan pemahaman aturan, sedangkan kandidat eksternal lebih memahami kondisi pasar dan aspek bisnis secara langsung.