Dewan Pembina Nalar Bangsa Institute, Bin Bin Firman Tresnadi, menilai pernyataan Amien Rais yang menuduh Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya sebagai tuduhan yang keliru dan tidak ditopang basis faktual. Ia juga menyebut tuduhan semacam itu mencerminkan kemunduran kualitas etika dalam ruang publik.
Menurut Bin Bin, di tengah kebutuhan konsolidasi nasional, stabilitas politik, dan percepatan agenda pembangunan, tuduhan tanpa dasar justru memicu kegaduhan yang tidak produktif. Ia menegaskan demokrasi memang membuka ruang kritik, namun kritik seharusnya berbasis data dan argumentasi rasional, bukan insinuasi.
“Demokrasi memang membuka ruang kritik itu prinsip dasar. Namun kritik yang tidak ditopang data, tidak berbasis argumentasi rasional, dan hanya mengandalkan insinuasi, bukanlah kritik,” kata Bin Bin dalam pernyataan tertulis yang diterima Sabtu (2/5).
Ia menilai ketika ruang publik dipenuhi serangan personal alih-alih pertarungan gagasan, yang terdampak bukan hanya individu, tetapi juga fondasi demokrasi. Bin Bin menyebut pola tersebut sebagai spekulasi politik yang berbahaya karena mendorong prasangka dan polarisasi.
Dalam keterangannya, Bin Bin juga menyampaikan bahwa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto saat ini sedang menjalankan agenda strategis yang disebutnya konkret dan terukur. Ia menyebut beberapa fokus agenda, di antaranya penguatan ketahanan pangan, akselerasi hilirisasi industri, peningkatan akses pendidikan dan kesehatan, serta konsolidasi kemandirian ekonomi nasional.
“Ini bukan sekadar retorika ini kerja nyata yang menyentuh basis material kehidupan rakyat,” ujarnya.
Bin Bin menilai, dalam situasi ketika serangan terhadap kebijakan semakin sulit dilakukan karena adanya capaian yang terlihat, sebagian pihak beralih ke pola serangan personal dengan menyasar orang-orang di sekitar kekuasaan, menebar kecurigaan, dan menciptakan distraksi. Ia menyebut pola tersebut bukan bentuk oposisi yang sehat, melainkan pelarian dari ketidakmampuan menawarkan alternatif.
Ia menambahkan model politik seperti itu bersifat destruktif karena tidak menawarkan solusi, arah, maupun kontribusi terhadap perbaikan bangsa. Bin Bin menyebutnya sebagai politik “hantam kromo” yang dilakukan tanpa tanggung jawab intelektual maupun moral.
“Bangsa ini tidak kekurangan kritik. Yang kita butuhkan adalah kritik yang cerdas, berbasis data, dan menawarkan jalan keluar. Energi nasional tidak boleh dihabiskan untuk melayani ego politik yang miskin substansi,” katanya.
Karena itu, Bin Bin mengimbau publik tetap waspada agar agenda besar pembangunan ekonomi, penguatan kedaulatan, dan peningkatan kesejahteraan rakyat tidak terganggu oleh manuver politik yang dinilainya tidak produktif.