BERITA TERKINI
Miroto dan Kreativitas Paradoksal: Tradisi, Topeng, dan Tafsir Kontemporer dalam Karya Tari

Miroto dan Kreativitas Paradoksal: Tradisi, Topeng, dan Tafsir Kontemporer dalam Karya Tari

Miroto dikenal sebagai seniman tari yang menempatkan tradisi sebagai pijakan, sekaligus membuka ruang tafsir baru untuk membaca berbagai isu kontemporer. Karya-karyanya menampilkan kekayaan teknik gerak dan refleksi personal atas pengalaman estetis maupun perjalanan hidupnya, dengan ekspresi yang kerap terasa emosional dan intens.

Topeng Panji dan bahasa tubuh yang berlapis

Dalam salah satu karyanya, Miroto mengenakan topeng putih Panji—tokoh putra gaya alusan Jawa—dengan gelung kain di kepala. Dengan posisi kuda-kuda dan iringan musik yang berulang, ia bergerak lembut seperti penari perempuan. Nuansa ini memunculkan imaji penari jathilan putri yang menuju trance. Di bagian akhir, ia melepas topeng dan bercakap dengannya, seolah membuka dialog antara persona, tubuh, dan identitas.

Penggunaan topeng, baik dari jumlah maupun ragam ekspresinya, menjadi medium bagi Miroto untuk menyuarakan tema-tema luas, antara lain:

  • jender dan feminisme,
  • sufisme,
  • multipersonality,
  • hingga terorisme.

Berangkat dari imaji artistik tradisi, karya-karyanya bergerak menuju presentasi simbolik atas isu-isu masa kini, tanpa melepaskan akar ekspresi gerak yang berpijak pada tradisi.

Tradisi Jawa sebagai sumber etis-estetis

Sebagai seniman, Miroto kerap menegaskan dirinya sebagai penari yang teguh memegang tradisi. Budaya Jawa disikapinya sebagai sumber ide etis-estetis dan kebijaksanaan makna. Pada saat yang sama, tradisi juga ia jadikan medan kreatif untuk terus menegaskan peran dirinya—baik sebagai pribadi maupun sebagai seniman yang hidup di tengah masyarakat.

Bedog Arts Festival dan kerja kesenian yang reflektif

Semangat tersebut turut menginisiasi penyelenggaraan Bedog Arts Festival, sebuah acara seni yang ingin mengembalikan dan menempatkan kembali seni sebagai bagian dari alam di lingkungan tempatnya berada. Festival yang digagas bersama GKR Pembayun dan Garin Nugroho serta diselenggarakan sejak 2007 itu dipandang menunjukkan proses kesenimanannya yang reflektif—berbasis pada upaya menggali dan mengaktualisasi nilai lokal—sekaligus kontekstual karena merespons fenomena serta kondisi faktual.

Opera Jawa dan paradoks peradaban

Dalam film Opera Jawa karya Garin Nugroho (2006), Miroto tampil sebagai Setio/Rama. Ia bersepakat dengan gagasan Garin bahwa peradaban manusia tengah terjepit di antara dua paradoks: kekuatan yang memakai kekerasan dan ketidakberdayaan yang juga menggunakan kekerasan. Masing-masing mengklaim kebenaran tunggal, menutup ruang bagi yang lain, hingga rasa cemas, takut, dan marah hadir bersamaan. Kekerasan pun dipandang menjadi satu-satunya jalan, termasuk dalam menyikapi hal yang dianggap suci seperti religi.

Melalui peran tersebut, Miroto mencoba menawarkan tafsir baru atas Ramayana, khususnya relasi Rama–Sinta. Kisah itu dipahami populer karena kesederhanaannya yang kompleks dan mampu mewakili berbagai paradoks yang melahirkan kegelisahan manusia masa kini—sesuatu yang bisa terjadi pada siapa pun dan di mana pun, pada kebudayaan yang penuh simbol.

Ekspresi mentah, intensitas, dan penjiwaan

Kegelisahan kreatif antara tradisi dan kontemporer, antara film dan tari, menemukan bentuknya dalam penampilan Miroto di Opera Jawa. Menurut Sasono (2007), tarian putra alusan yang dibawakan Miroto berhasil membangun ekspresi mentah dan cenderung liar sesuai cerita yang ingin dibangun film. Pada adegan di kamar Siti–Setio, film menangkap imaji seksualitas yang selama ini sangat privat; ekspresi yang mentah membuat cerita berjalan lebih mencekam, sementara seks yang diangkat melalui bahasa ungkap tari tidak jatuh menjadi erotika vulgar.

Dalam film itu, Miroto tidak terperangkap pada gagasan komposisi yang harus “megah”, “gemulai”, atau “indah”. Partikel-partikel geraknya menempuh jalan menuju esensi: tarian sebagai tubuh yang tidak padam. Laku sehari-hari yang sederhana pun dapat menjadi komposisi. Indah atau tidak indah tidak semata ditentukan bentuk, melainkan intensitas dan penjiwaan yang matang. Dari sana, ia melihat tradisi dan tari mampu menjadi bagian dari kontemporerisasi zaman elektronik, tidak hanya melalui film, tetapi juga lewat bentuk-bentuk artikulasi artistik lainnya.

Merespons era digital melalui Simulakra

Isu-isu mutakhir terus menggerakkan Miroto untuk berkarya. Fenomena era digital—ketika interaksi manusia banyak berlangsung di dunia maya serta ruang dan waktu seolah memadat dalam arus globalisasi—dihadirkan dalam karya tari Simulakra (2015).

Karya tersebut menjadi wujud estetis imajinasi budaya yang menumbuhkan daya adaptasi dan kreasi ekspresi serta moda yang dibutuhkan untuk berekspresi. Melalui karya ini, kehadiran tari dibaca bukan semata dokumentasi sajian atau penyebarluasan informasi, melainkan hadir dalam berbagai konteks dan membuka kemungkinan lebih luas bagi dialog peradaban yang lebih terbuka dan kontekstual. Tradisi, imaji, dan makna tari itu menyatu dalam diri Miroto.

Warisan dan kehilangan

Keseluruhan perjalanan artistik itu menunjukkan bahwa perkembangan dunia tari Indonesia tidak tumbuh dari ruang hampa, melainkan dari kekayaan kearifan lokal, histori sosial, sejarah kebudayaan, hingga industri kontemporer yang saling mengisi. Miroto menyikapinya dengan intensitas kreativitas seniman, serta kepekaan dan kedewasaan manusia untuk membahas persoalan peradaban yang lebih luas.

Di ujungnya, Miroto menyiratkan upaya memenuhi ruang pemaknaan: sebuah perayaan hidup dan warisan kultural yang diakselerasi dalam karya-karya tari, sekaligus proyeksi personalitasnya sebagai manusia. Kepergiannya meninggalkan duka.