BERITA TERKINI
Miniseri Netflix 'Adolescence' Tuai Pujian, Angkat Dampak Media Sosial dan Misogini pada Remaja

Miniseri Netflix 'Adolescence' Tuai Pujian, Angkat Dampak Media Sosial dan Misogini pada Remaja

Miniseri terbaru Netflix berjudul Adolescence menjadi perbincangan setelah menuai pujian dari kritikus dan penonton. Drama asal Inggris yang terdiri dari empat episode ini dirilis pekan lalu dan disebut sebagai salah satu tontonan televisi yang kuat serta berkesan.

Selama akhir pekan penayangan perdananya, Adolescence tercatat sebagai salah satu program yang paling banyak ditonton di berbagai negara. Daya tarik lainnya datang dari pendekatan teknis yang digunakan: setiap episode difilmkan dalam satu pengambilan gambar tanpa putus.

Sejumlah ulasan media menempatkan serial ini pada posisi istimewa. Tom Peck dari The Times menyebutnya “sangat sempurna”, sementara Lucy Mangan dari The Guardian menilai serial ini “mendekati kesempurnaan televisi dalam beberapa dekade terakhir”. Reaksi di media sosial pun ramai, termasuk dari sutradara Amerika Serikat Paul Feig yang menyebut episode pertama sebagai “tontonan satu jam terbaik” yang pernah ia saksikan dalam sejarah televisi.

Cerita Adolescence mengikuti Jamie, seorang bocah yang diperankan aktor pendatang baru Owen Cooper. Stephen Graham memerankan ayah Jamie. Serial ini menyoroti dampak buruk media sosial serta pengaruh pemengaruh misoginis terhadap sebagian remaja laki-laki.

Graham mengatakan ide serial ini muncul setelah ia melihat dua laporan terpisah tentang anak laki-laki yang menikam bocah perempuan hingga tewas. Kepada program BBC The One Show, ia menyampaikan kegelisahannya tentang kondisi sosial yang membuat peristiwa semacam itu terasa lumrah. “Saya membatin: apa yang sebenarnya terjadi di masyarakat kita sampai-sampai hal semacam ini menjadi lumrah?” ujarnya. Ia menambahkan bahwa ia ingin mencoba menyoroti masalah tersebut secara spesifik.

Penulis naskah Jack Thorne menyebut para pembuat Adolescence ingin “menatap langsung ke dalam kemarahan laki-laki”. Dalam wawancara dengan program Front Row di Radio 4, Thorne mengatakan Jamie telah “terkena indoktrinasi suara-suara” seperti Andrew Tate dan “suara-suara yang jauh lebih berbahaya daripada Andrew Tate”. Andrew Tate dikenal sebagai influencer media sosial dengan pandangan kontroversial tentang maskulinitas dan perempuan.

Aktris Erin Doherty, yang berperan sebagai psikolog anak, mengatakan kepada program Today di BBC Radio 4 bahwa serial ini “berani untuk mengupas berbagai lapisan permasalahan”. Menurutnya, serial tersebut mendorong percakapan yang lebih luas di lingkungan keluarga dan pertemanan. “Kita harus memicu diskusi, dan semoga itulah yang dilakukan acara ini,” ujarnya.

Dari sisi kritik, Mangan menilai pencapaian teknis pengambilan gambar tunggal diimbangi penampilan para aktor yang layak penghargaan serta naskah yang alami dan menggugah. Ia menyebut Adolescence sebagai pengalaman yang menyentuh sekaligus menyedihkan. Anita Singh dari The Telegraph menggambarkannya sebagai tontonan yang “membuat hati hancur secara perlahan” dan sulit dilupakan. Meski teknik satu pengambilan bisa terasa seperti gimik, ia menilai akting para pemain “fenomenal”, termasuk pujiannya pada Cooper yang dinilai mampu bergerak di antara kerentanan, kemarahan, keberanian, dan ketakutan.

Pujian serupa datang dari Jake Kanter dari Deadline yang menyebutnya sebagai drama TV empat jam yang “sempurna” dan membekas setelah selesai ditonton. Alan Sepinwall dari Rolling Stone memasukkan serial ini ke dalam kandidat awal tontonan terbaik di layar kecil tahun ini. Sementara Margaret Lyons dari The New York Times menyebutnya “karya kritik sosial yang kaya” dan menyoroti episode ketiga sebagai yang paling menonjol, bahkan menyebutnya sebagai episode televisi paling menarik yang ia tonton sejauh ini.

Dalam program Must Watch di BBC Radio 5 Live, Hayley Campbell menilai Adolescence tidak berupaya menyelesaikan persoalan yang diangkat, melainkan mengamati meningkatnya misogini—terutama pada anak laki-laki muda—yang turut dipicu figur seperti Andrew Tate. Namun, ia menekankan serial ini bukan tentang satu tokoh tertentu, melainkan tentang kengerian ketika orang tua merasa minim kendali atas apa yang dilakukan anak melalui ponsel mereka. Kritikus lain, Scott Bryan, menyebut para pemeran “benar-benar fantastis” dan menilai serial ini “sempurna”, dengan sorotan khusus pada Owen Cooper yang baru berusia 15 tahun.