Sejumlah orang memilih menunda kebahagiaan demi mengejar tujuan jangka panjang. Namun, pertanyaannya, apakah menunda kebahagiaan memang lebih baik dibanding menikmatinya saat ini? Studi terbaru mencoba melihat bagaimana keyakinan seseorang tentang kebahagiaan berkaitan dengan perilaku dan kesejahteraan sehari-hari.
Psikolog dari University of Buffalo melakukan penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Emotion. Studi ini berupaya mengisi celah dari riset-riset sebelumnya yang telah mengulas siapa, kapan, dan mengapa orang lebih memilih bahagia sekarang atau nanti, tetapi belum banyak mengaitkannya dengan dampak terhadap kesejahteraan dan perilaku.
Kebahagiaan dipandang sebagai “investasi” atau sesuatu yang cepat berlalu
Lora Park, Ph.D., profesor psikologi sekaligus direktur Self and Motivation Lab di University of Buffalo, menjelaskan bahwa sebagian orang memandang kebahagiaan sebagai sesuatu yang bersifat kumulatif—mirip menabung uang dan melihat nilainya bertambah seiring waktu.
Dalam cara pandang ini, seseorang cenderung mendukung gagasan “menunda kebahagiaan”: bekerja keras dan berkorban saat ini demi tujuan jangka panjang yang diyakini akan membuatnya lebih bahagia di masa depan.
Di sisi lain, ada orang yang menganggap kebahagiaan cepat berlalu dan berfluktuasi dari waktu ke waktu, seperti pergerakan pasar saham yang tidak selalu bisa diprediksi. Dengan keyakinan tersebut, seseorang lebih cenderung memilih “hidup di saat ini”, yaitu memanfaatkan kesempatan untuk merasa bahagia sekarang ketimbang menundanya demi masa depan yang tidak pasti.
Bagaimana studi dilakukan
Park dan tim meneliti peserta dari kelompok usia mahasiswa dan dewasa. Pada tahap awal, peserta diminta membantu menetapkan skala baru untuk mengukur keyakinan tentang menunda kebahagiaan versus keyakinan menikmati kebahagiaan pada saat ini.
Berikutnya, peserta diminta menilai biaya dan manfaat dari keyakinan-keyakinan tersebut.
Temuan: ada manfaat, ada pula konsekuensi emosional
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keyakinan menunda kebahagiaan demi tujuan jangka panjang berkaitan dengan antisipasi kebahagiaan dan kebanggaan yang lebih besar setelah tujuan tercapai.
Namun, Park menyebut ada sisi negatifnya. Menunda kebahagiaan juga dikaitkan dengan perasaan lebih bersalah, cemas, dan penyesalan, terutama terkait aktivitas yang dianggap menyita waktu atau energi dari tujuan jangka panjang.
Penelitian ini juga menyinggung konteks sosial. Di masyarakat Barat, mereka yang mengejar tujuan dengan mengorbankan kebahagiaan sesaat kerap dipandang positif, sementara hidup di saat ini bisa dilabeli impulsif. Meski begitu, studi ini menekankan bahwa hidup di saat ini juga memiliki manfaat.
Keyakinan bisa stabil, tetapi tetap dapat bergeser
Park dan tim menemukan bahwa keyakinan tentang kebahagiaan cenderung relatif stabil, tetapi tetap bisa berubah. Pergeseran ini dapat dipengaruhi pesan-pesan sosial yang memberi nilai berbeda pada kebahagiaan yang dianggap kumulatif atau kebahagiaan yang cepat berlalu.
Menurut Park, penelitian tersebut menunjukkan bahwa menempatkan kebahagiaan sebagai sesuatu yang harus dinikmati sekarang atau nanti sama-sama memiliki biaya dan manfaat, serta keyakinan ini dapat dibentuk.
Tidak ada satu pendekatan yang pasti paling baik
Kesimpulan studi ini menegaskan bahwa perbedaan keyakinan tentang kebahagiaan perlu dipertimbangkan untuk memaksimalkan kebahagiaan dan kesejahteraan seseorang. Pada akhirnya, satu keyakinan tentang kebahagiaan belum tentu lebih baik daripada yang lain.

