Bagaimana kehidupan berkesenian masyarakat Sunda pada abad ke-16 dapat ditelusuri melalui jejak tradisi lisan yang kuat, yang terekam dalam prasasti maupun naskah Sunda kuno. Pada masa sebelum pengaruh Mataram dan Islam masuk ke Tanah Pasundan, lantunan suara disebut menjadi bagian dari keseharian, sekaligus terkait dengan kehidupan sosial dan spiritual.
Salah satu istilah penting yang muncul dari sumber-sumber kuno itu adalah kawih, seni suara Sunda yang kerap disebut sebagai nenek moyang berbagai bentuk nyanyian Sunda. Dari kawih, kemudian berkembang ragam bentuk seni sastra suara lain, termasuk tembang yang memiliki aturan pupuh yang ketat, serta Cianjuran yang hadir lebih belakangan sebagai wujud estetika suara yang halus dan penuh rasa.
Istilah kawih tercatat dalam naskah Sunda kuno Sanghyang Siksakandang Karesian yang digubah pada 1518. Dalam naskah tersebut, kawih merujuk pada beragam jenis nyanyian atau seni suara khas Sunda. Contohnya antara lain kawih sisindiran (pantun yang dinyanyikan), kawih beluk (teriakan melengking di ladang yang bernilai musikal), hingga kawih pantun (lagu pengiring cerita pantun).
Peneliti dan sastrawan Sunda Dian Hendrayana, dalam penelitian berjudul “Pelurusan Istilah Kawih, Tembang, dan Cianjuran” yang dimuat di Jurnal Panggung pada 2020, menyebut kawih sebagai payung besar bagi semua bentuk nyanyian Sunda dan sebagai ekspresi musik paling purba yang dimiliki masyarakat Sunda.
Dalam perkembangannya, kawih dapat memiliki irama bebas (merdeka), seperti pada beluk dan lagu pantun, tetapi juga dapat berirama teratur (tandak), sebagaimana lagu-lagu pop Sunda modern. Pengajar karawitan di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, Atang Suryaman, menjelaskan bahwa kawih kemudian lebih dekat dengan konsep “lagu jadi”, yakni karya yang jelas pengarangnya. Ia mencontohkan Kawih Wanda Anyar yang diciptakan tokoh-tokoh seperti Nano S., Abun Gubarsah, Hj. Iyus Wiradireja, hingga Koko Koswara.
Salah satu contoh kawih yang disebut adalah “Samoja” karya Koko Koswara dan Euis Komariah. Melalui ragam bentuk dan perkembangannya, kawih menunjukkan bagaimana tradisi seni suara Sunda terus hidup, sekaligus menjadi dasar bagi lahirnya bentuk-bentuk lain seperti tembang dan Cianjuran.

