BERITA TERKINI
Mengapa Sulit Lepas dari Ponsel Saat Menonton Tayangan?

Mengapa Sulit Lepas dari Ponsel Saat Menonton Tayangan?

Sejak Maret lalu, penulis kembali mengaktifkan akun Netflix setelah dua tahun vakum demi menonton Adolescence, drama kriminal asal Inggris yang viral dan dipuji karena akting realistis serta gaya pengambilan gambar sekali jalan (one-take). Di tengah kesan bahwa banyak film dan serial terbaru terasa seperti “ditulis” tanpa jiwa, pengalaman menonton serial ini justru menjadi pengecualian: seluruh episode dituntaskan dalam sekali duduk tanpa sekali pun mengecek ponsel.

Selama menonton, penulis juga tidak terdorong untuk mencari informasi tambahan—mulai dari alur cerita, latar belakang aktor, hingga ulasan. Terhanyut dalam cerita semestinya bukan hal luar biasa, tetapi bagi penulis itu terasa langka. Dan, sebagaimana tergambar dari respons warganet, pengalaman semacam ini tampaknya tidak dialami sendirian.

Fenomena sulit lepas dari ponsel saat menonton belakangan ramai dibahas, salah satunya lewat unggahan satir di Instagram yang sempat viral. Unggahan itu merangkum “tantangan” sederhana: menonton satu film penuh tanpa menyentuh ponsel, lalu tidak langsung mengambil ponsel setelah film selesai, tidak mencari apa pun secara online (termasuk plot hole, produksi, karakter, pendapatan box office, atau kehidupan pribadi aktor), tidak membaca ulasan, dan langsung tidur tanpa meng-google film tersebut.

Sejumlah warganet mengaku sanggup menahan diri untuk tidak memegang ponsel selama menonton, tetapi banyak yang menyerah di langkah ketiga. Salah satu komentar menyebut larangan mencari tahu aktor, box office, dan ulasan sebagai hal yang “sulit banget”. Dalam polling sederhana yang diajukan penulis kepada 36 teman, hanya 13 orang yang mengatakan bisa menuntaskan tantangan itu. Bahkan, salah satu responden mengaku akan sangat tergoda untuk melanggarnya.

Tantangan tersebut menyoroti rapuhnya perhatian di tengah penggunaan ponsel dan media sosial yang berlebihan. Lebih jauh, fenomena ini menggambarkan kebutuhan yang kian besar terhadap stimulasi—kebutuhan yang tumbuh dalam budaya daring yang menekankan kuantitas dibanding kualitas. Beragam platform seperti TikTok, Instagram, Facebook, YouTube, hingga LinkedIn ikut mengubah cara orang mengonsumsi konten, karena pengguna dapat berpindah ke video berikutnya kapan saja.

Seorang ahli neurosains kognitif pernah menjelaskan kepada CNA bahwa pola konsumsi semacam ini membuat orang makin tak sabar. Sementara itu, pakar neurosains konsumen mencatat perilaku tersebut sebagai bentuk adaptasi terhadap zaman digital. Ketika selalu ada konten lain yang menarik untuk digulir, orang pun terbiasa membagi perhatian dengan mengerjakan dua hal sekaligus—misalnya menonton film sambil scrolling TikTok, bahkan ketika berada di bioskop.

Para pakar mengakui otak manusia dapat berubah mengikuti kebiasaan. Namun di tengah kekhawatiran bahwa kebiasaan ini menurunkan kemampuan fokus, ada hal lain yang juga perlahan menghilang: budaya untuk benar-benar terbenam dalam menikmati sebuah karya. Ketika toko buku dan bioskop mulai menghilang—sebagai simbol masa ketika orang bisa larut dalam hiburan—dan ketika fokus pada satu cerita makin sulit, yang hilang bukan hanya konsentrasi.

Penurunan kemampuan untuk tenggelam dalam tayangan juga menjadi tantangan bagi rumah produksi yang ingin merebut kembali perhatian penonton. Dalam sebuah utas Reddit tiga tahun lalu, banyak pengguna mengaku sulit fokus menonton di rumah, tetapi mudah terhanyut di bioskop. Pengguna lain menambahkan bahwa di rumah selalu ada dorongan untuk berhenti sejenak—mengambil camilan, membuka ponsel, dan sebagainya. Namun kini, kebiasaan scrolling juga kian terlihat di bioskop.

Di sisi lain, layanan streaming seperti Netflix disebut merespons kondisi ini dengan memproduksi tayangan yang tidak menuntut perhatian penuh. Caranya, dengan menghadirkan formula dan alur yang familiar serta dangkal—tayangan yang cukup ditonton sambil lalu, bukan disimak untuk menangkap makna yang lebih dalam.

Kritikus budaya asal Amerika, Will Talvin, dalam esainya tentang bagaimana Netflix “merusak” film, menyebut semakin banyak “pseudo movies” atau film palsu yang sengaja dibuat untuk diputar sebagai latar ketika orang sibuk melakukan hal lain. Dalam n+1 magazine pada Desember 2024, ia menulis bahwa tayangan semacam itu “dirancang untuk diputar saja, bukan untuk ditonton”, dan cocok dengan model streaming karena penonton di rumah sering kali tidak benar-benar memperhatikan.

Dampak kebiasaan digital ini tidak hanya terasa pada film dan serial. Penulis menilai budaya membaca juga terkena imbas: meski mampu membaca artikel daring ribuan kata dalam sekali duduk, menyelesaikan satu buku justru terasa sulit. Padahal sebelumnya, penulis mengaku bisa membaca beberapa buku sehari sebelum kecanduan ponsel, dan kondisi semacam itu disebut ikut menjelaskan mengapa toko buku makin sepi.

Menurut penulis, akar masalahnya adalah paradoks kemudahan akses. Layanan streaming dan media sosial memang membuka ruang bagi kreator untuk menjangkau lebih banyak orang, tetapi sekaligus membanjiri publik dengan konten melebihi kapasitas untuk dinikmati secara utuh. Demi bersaing dalam lautan tayangan yang berebut klik, banyak program akhirnya dirancang agar mudah ditemukan algoritma dan cepat dikonsumsi.

Akibatnya, cerita kerap terasa generik: sekilas tampak menarik, namun hampa rasa. Ketika penonton bisa beralih ke konten lain hanya dengan satu klik, tidak banyak alasan untuk bertahan pada tayangan yang datar. Namun kebiasaan ini, sebagaimana dicatat penulis, mendorong pembuat film dan serial untuk menyajikan kepuasan instan—bukan pengalaman yang meninggalkan makna lebih lama setelah layar padam.