BERITA TERKINI
Mengapa Lulusan Sastra Tak Selalu Menjadi Penulis: Minat, Kurikulum, hingga Tantangan Psikologis

Mengapa Lulusan Sastra Tak Selalu Menjadi Penulis: Minat, Kurikulum, hingga Tantangan Psikologis

Anggapan bahwa mahasiswa atau lulusan jurusan sastra akan otomatis lebih siap menjadi penulis kerap terdengar masuk akal. Mereka terbiasa bergelut dengan teori, analisis, dan pilihan kata. Namun, dalam praktiknya, tidak sedikit penulis dikenal justru datang dari latar pendidikan lain, sementara lulusan Sastra Indonesia maupun jurusan sastra lain tidak selalu menonjol sebagai pengarang.

Sejumlah alasan kerap dikemukakan untuk menjelaskan fenomena tersebut. Pertama, tidak semua mahasiswa sastra memiliki minat menulis sejak awal. Ada yang memilih jurusan sastra karena pertimbangan lain, termasuk “salah pilih” saat pendaftaran kuliah, menjadikannya opsi kedua, atau karena mengira perkuliahan akan didominasi bacaan novel. Ketika realitas kampus berisi teori-teori seperti strukturalisme dan semiotika, minat awal yang tidak berangkat dari keinginan menulis pun semakin terlihat.

Kedua, kurikulum jurusan sastra tidak selalu dirancang sebagai sekolah menulis. Perkuliahan umumnya menekankan teori sastra, linguistik, dan kritik, sehingga mahasiswa lebih terlatih membedah karya ketimbang memproduksi karya. Mata kuliah yang secara langsung berfokus pada praktik kepenulisan—seperti penulisan kreatif—disebut tidak selalu menjadi mata kuliah wajib bagi semua mahasiswa, sehingga kesempatan untuk berlatih menulis fiksi atau karya kreatif secara intensif tidak merata.

Ketiga, kebiasaan menganalisis teks dapat memunculkan terlalu banyak pertimbangan saat menulis. Kesadaran terhadap unsur teknis—mulai dari diksi, gaya bahasa, alur, sudut pandang, hingga isu-isu wacana—membuat sebagian mahasiswa sastra cenderung mengedit diri sendiri sejak awal. Akibatnya, proses menulis menjadi lambat, ragu-ragu, dan kerap tidak selesai karena penulis terus-menerus mempertanyakan ketepatan kalimat, metafora, atau potensi bias dalam tulisan.

Keempat, realitas dunia kerja juga turut memengaruhi. Setelah lulus, banyak alumni sastra bekerja di bidang yang tidak langsung terkait dengan penulisan sastra. Ada yang beralih ke pekerjaan seperti penulis konten, admin media sosial, staf administrasi, pengajar les, desain grafis, HRD, hingga perbankan. Keterampilan menulis tetap terpakai, tetapi sering bergeser ke kebutuhan komunikasi praktis seperti copywriting, konten media, atau kerja jurnalistik, bukan ke penulisan karya sastra seperti yang dibayangkan sebagian orang.

Kelima, kebiasaan membaca yang tinggi dapat berujung pada rasa minder untuk menerbitkan karya. Karena akrab dengan karya-karya penulis besar, sebagian mahasiswa sastra merasa tulisan mereka belum cukup layak dibandingkan standar yang mereka baca. Keraguan itu dapat membuat mereka menunda mengirim naskah, sementara orang dari luar jurusan sastra yang tidak terbebani pertimbangan serupa justru lebih berani mengajukan karya dan berpeluang terbit.

Rangkaian faktor tersebut membentuk kesimpulan yang kerap disampaikan: dunia kepenulisan tidak ditentukan oleh latar jurusan, melainkan oleh praktik menulis itu sendiri. Terlalu lama memikirkan “cara menulis yang benar” bisa membuat seseorang tertinggal dari mereka yang lebih dulu menulis dan menyelesaikan karyanya.