Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan peran agama dalam menjinakkan pikiran yang liar dan jiwa yang rakus saat menghadiri peluncuran dua buku di kantor Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Jakarta.
Dua buku yang dirilis dalam acara tersebut berjudul “Deklarasi Istiqlal (Refleksi Harapan & Tantangan Seluas Indonesia)” dan “Berjalan Bersama Hidup Rukun Bersaudara (Best Practices Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Se-Indonesia)”.
Dalam sambutannya, Nasaruddin menyerukan pentingnya menjalankan ajaran agama secara menyeluruh. Menurutnya, keberagamaan tidak berhenti pada ritual, tetapi juga harus tercermin dalam upaya menebarkan cinta kasih kepada sesama manusia serta semangat merawat kelestarian lingkungan. Ia menyebut perpaduan nilai-nilai tersebut sebagai ekoteologi.
“Kalau kita bersahabat dengan alam, otomatis kita bersahabat dengan umat agama lain. Kalau kita mendalami ajaran agama kita masing-masing, maka kita akan semakin dekat dengan agama satu dan yang lain,” ujar Nasaruddin di Jakarta, Rabu (10/9/2025).
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengedepankan nilai-nilai universal dalam kehidupan beragama, dengan menitikberatkan pada pencarian titik temu. “Lebih banyak kita mencari titik temu daripada mencari perbedaan dalam beragama,” tegasnya.
Di sisi lain, Nasaruddin menyampaikan keprihatinannya terhadap sebagian pengajar agama yang dinilai justru menanamkan kebencian. Menurutnya, inti ajaran semua agama adalah kasih. “Banyak guru agama yang bukan mengajarkan agama, tapi mengajarkan kebencian. Semua agama itu intinya kasih,” katanya.
Ia menilai perlu ada pembaruan suasana teologi yang lebih mengedepankan kelembutan dan kasih sayang. “Sudah saatnya kita memperbaiki suasana teologi kita sekarang ini. Bagaimana agama bisa menjinakan pikiran yang liar dan jiwa yang rakus. Perlu sistem teologi yang lebih feminim bekerja dalam benak masyarakat kita,” tandasnya.
Acara peluncuran buku turut dihadiri para kontributor dari berbagai lintas agama dan sejumlah tokoh, antara lain Mgr. Antonius Subianto Bunjamin (Ketua KWI), Muhammad Abdul Qodir (Pengasuh Ponpes Roudhotus Sholihin Loireng Demak), Bante Dhammasubho Sri Mahathera (tokoh agama Buddha), Prof. Philip K. Widjaja (Ketua Umum Permabudhi), XS. Budi Tanuwibowo (Ketua Umum Matakin), Niluh Puspasari (Sekretaris Bidang Pemberdayaan Perempuan, Pemuda, dan Perlindungan Anak Pengurus Harian PHDI Pusat), serta Pdt. Jonan Kristantara (Sekretaris Eksekutif Bidang KKC PGI). Hadir pula staf khusus dan tenaga ahli Kementerian Agama serta tamu lintas agama.
Buku “Deklarasi Istiqlal” memuat deklarasi yang lahir sebagai diplomasi lintas iman dengan fokus pada isu kemanusiaan dan pelestarian lingkungan. Deklarasi tersebut ditandatangani Paus Fransiskus sebagai Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik bersama Nasaruddin Umar selaku Imam Besar Masjid Istiqlal pada 5 September 2024.

