Nama Zen RS—atau Zen Rachmat Sugito—diperkenalkan penulis melalui buku Simulakra Sepakbola (2016) milik seorang kawan. Dari pengalaman membaca itu, penulis mengaku terdorong mencari tahu sosok di balik buku yang dinilai menarik tersebut, sekaligus menelusuri karya-karya Zen di berbagai medium.
Dalam pandangan penulis, gaya Zen ditandai oleh analisis dan pengamatan yang tajam. Meski tidak menamatkan buku itu, penulis menyebut pencariannya berlanjut lewat tulisan-tulisan lain Zen yang tidak hanya membahas sepakbola, tetapi juga hadir dalam bentuk opini, esai, dan analisis.
Kutipan yang memantik pertanyaan
Salah satu bagian yang disebut paling membekas adalah kutipan dari buku itu: “Jika pornografi mulai dianggap lebih sensual dibandingkan seks, maka bisakah tayangan sepakbola dianggap lebih sporty dari sepakbola itu sendiri?”
Penulis menilai perbandingan tersebut memantik keheranan sekaligus kekaguman, karena menghubungkan dua hal yang jauh berbeda. Menurutnya, diperlukan analogi dan analisis yang tepat agar perbandingan semacam itu dapat dipahami.
Pujian dari rekan dan jejak di berbagai media
Penulis juga mengutip tulisan Muhidin M. Dahlan yang terbit di mojok.co. Dalam kutipan itu, Zen disebut sebagai “penulis esai terbaik” di antara kader HMI MPO berusia 20 hingga 40 tahun.
Selain itu, penulis menyebut baru menyadari bahwa Zen adalah pemilik panditfootball.com, sebuah media analisis sepakbola yang mengangkat sudut pandang sosio-kultur dan sejarah dari Indonesia hingga Eropa. Penulis mengaku telah mengikuti akun media tersebut di Twitter beberapa tahun sebelumnya, bahkan sebelum mengetahui siapa pendirinya.
Belakangan, penulis juga menyebut Zen berpengaruh di media literasi lain seperti Tirto.id. Penulis menggambarkan idealisme Zen tampak dalam tulisan dan sikapnya pada berbagai isu sosial di Indonesia, termasuk HAM, penindasan, penggusuran lahan, serta isu terkait suporter sepakbola dan kritik terhadap PSSI.
Dari kampus sejarah ke tema yang beragam
Jejak menulis Zen disebut telah melintasi berbagai media cetak sejak masa kuliah Ilmu Sejarah di Universitas Negeri Yogyakarta. Penulis kembali mengutip Muhidin M. Dahlan yang menyebut Zen menjajal banyak tema, mulai dari lingkungan, film, buku, tokoh, hukum, dunia mahasiswa, hingga kondom.
Di majalah kampus LPM Ekspresi IKIP/UNY, tulisan-tulisan Zen disebut dominan dari sisi kuantitas dan kualitas. Penulis juga menyinggung kesan personal tentang penampilan dan gaya Zen yang dinilai “selengean” dalam beberapa tayangan di layar kaca.
Pengalaman menonton dan konteks sejarah dalam sepakbola
Penulis mengingat kemunculan Zen dalam segmen pra-kick-off Piala Dunia 2018. Ia menilai Zen menawarkan sudut pandang yang luas “dari hulu ke hilir” dan membedakannya dari komentator lain yang disebut dalam tulisan.
Menurut penulis, latar belakang sejarah yang dimiliki Zen turut membentuk cara pandangnya dalam menulis. Ia mengutip resensi Hary G. Budiman berjudul Sebuah Catatan Kecil Tinjauan Simulakra Sepakbola (2016), yang menyebut bahwa Zen memberi “nafas sejarah” tentang Bahasa Indonesia sebagai bentuk nasionalisme awal dan perlawanan mula terhadap kolonialisme modern.
“Koloni Bola” dan cara membaca sepakbola
Dalam tulisan itu, penulis menyebut salah satu bagian buku, bab “Koloni Bola”, didominasi esai-esai serius yang menautkan sepakbola dengan sejarah, politik, dan kekuasaan. Masih merujuk pada resensi Hary G. Budiman, esai-esai tersebut dinilai tidak hanya berangkat dari pengalaman menonton, tetapi juga dari upaya pembacaan dan penelitian—mulai dari pengumpulan sumber, kritik sumber, sintesis data, hingga interpretasi.
Sepakbola lebih dari olahraga
Di akhir, penulis menyimpulkan bahwa dari Zen RS pembaca dapat menarik pelajaran bahwa sepakbola dapat dibaca melampaui statusnya sebagai cabang olahraga. Sepakbola, dalam kacamata itu, dapat menjadi medium untuk menuliskan sejarah secara jernih dan melihat realitas dari berbagai sudut pandang.
- Topik: Opini, Sejarah, Simulakra Sepakbola, Zen RS

