BERITA TERKINI
Masalah Perfilman Era 1970-an yang Masih Terasa hingga Sekarang

Masalah Perfilman Era 1970-an yang Masih Terasa hingga Sekarang

Sejumlah persoalan yang mengemuka dalam industri perfilman pada era 1970-an dinilai masih berulang hingga hari ini. Pada dekade tersebut, sempat muncul fenomena ketika industri film Hongkong dan sejumlah industri film mancanegara lainnya mengalami kelesuan, sementara di sisi lain minat penonton justru mulai tumbuh.

Kondisi itu sempat memunculkan optimisme dan gairah di kalangan pelaku industri. Namun, situasi tersebut tidak berlangsung lama karena muncul ancaman pembajakan serta kehadiran media baru yang mengubah pola konsumsi tontonan.

Komposisi Film Nasional dan Film Mancanegara di Bioskop

Pada masa itu, komposisi penayangan film di bioskop sempat direkomendasikan 60% film nasional berbanding 40% film mancanegara. Rekomendasi ini dipandang kurang logis oleh banyak pihak karena beberapa pertimbangan.

  • Jumlah film nasional terbatas, dengan rata-rata produksi masih di bawah 200 judul per tahun.
  • Kualitas film tidak merata, ada yang dinilai bagus dan ada yang dinilai buruk.
  • Minat penonton terhadap film nasional belum setinggi film mancanegara, sehingga pemilik dan pengelola bioskop khawatir merugi.

Dalam situasi seperti itu, salah satu gagasan yang mengemuka adalah perlunya peningkatan kualitas film Indonesia agar jumlah penonton bertambah. Jika peminat meningkat, pengelola bioskop dinilai akan lebih terdorong menambah layar, seperti yang terjadi pada film Pengabdi Setan dan Warkop DKI Reborn Part I.

Film Sejarah yang Minim Diproduksi

Persoalan lain yang disorot adalah minimnya film sejarah. Pembuatan film sejarah disebut tidak mudah karena membutuhkan berbagai kriteria, termasuk keakuratan dan urutan peristiwa.

Beban produksi juga dinilai berat bagi sutradara maupun pemain. Film R.A Kartini, misalnya, disebut membuat sutradaranya, Syumandjaya, mengalami penurunan bobot hingga 8 kilogram. Sementara itu, Lenny Marlina yang memerankan Kartini disebut enggan kembali bermain dalam film sejarah karena beratnya beban memerankan tokoh besar.

Belakangan, film sejarah dinilai jarang dijumpai. Film Bumi Manusia dan Kartini disebut cukup sukses, tetapi film seperti Wage dan Sultan Agung disebut tidak banyak diminati.

Meski demikian, film sejarah dinilai memiliki manfaat. Nyoo Han Siang, produser film November 1828, disebut tetap terdorong membuat film sejarah karena manfaatnya dalam mengenalkan sejarah Indonesia kepada generasi muda, memberikan pendidikan dan wawasan, serta menumbuhkan semangat menghargai pahlawan. Roy Marten, produser sekaligus pemeran Wolter Monginsidi, juga menyampaikan bahwa penonton dapat belajar dari sejarah melalui film sejarah.

Pembajakan dan Kehadiran Media Baru

Pembajakan disebut masih sulit diantisipasi, meski kini lapak penjual DVD bajakan disebut semakin jarang dijumpai. Salah satu faktor yang disebut memengaruhi adalah tarif langganan platform streaming yang semakin terjangkau, dengan jenis layanan yang semakin beragam, termasuk opsi berlangganan harian.

Rangkaian persoalan tersebut menunjukkan bahwa tantangan industri perfilman tidak hanya berkaitan dengan produksi dan kualitas karya, tetapi juga dengan distribusi, perubahan perilaku penonton, serta dinamika teknologi yang terus berkembang.