BERITA TERKINI
Mahasiswa ITB Kolaborasi Bangun Instalasi Biogas dari Kotoran Sapi, Kapasitas 10 m³ untuk Kebutuhan Memasak Warga

Mahasiswa ITB Kolaborasi Bangun Instalasi Biogas dari Kotoran Sapi, Kapasitas 10 m³ untuk Kebutuhan Memasak Warga

Kolaborasi mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) menghadirkan instalasi biogas yang memanfaatkan limbah kotoran sapi sebagai sumber energi terbarukan. Instalasi berkapasitas 10 m³ ini menggunakan sekitar 100 kilogram kotoran sapi per hari dan diperhitungkan cukup untuk memenuhi kebutuhan memasak tiga rumah tangga setiap harinya.

Peresmian instalasi tersebut dihadiri lebih dari 40 peserta, terdiri atas warga desa, tokoh masyarakat, tim Ground to Gas, Society of Renewable Energy ITB, serta mitra kolaboratif Enter Nusantara.

Rosdiana, mahasiswi ITB sekaligus tim R&D Ground to Gas, mengatakan proyek ini ingin menunjukkan bahwa energi terbarukan dapat diwujudkan melalui teknologi yang sederhana namun tepat guna. “Kami ingin menunjukkan bahwa energi terbarukan tidak harus rumit. Lewat teknologi yang sederhana tapi tepat guna, kami ingin desa menjadi pusat dari revolusi energi masa depan,” ujarnya.

Rangkaian acara dimulai dengan kunjungan langsung ke lokasi instalasi. Peserta dipandu untuk melihat proses fermentasi limbah hingga menghasilkan gas metana, sekaligus menyaksikan pemanfaatannya untuk memasak menggunakan kompor yang telah dimodifikasi. Bapak Abad, warga sekaligus praktisi, menyampaikan perubahan pandangannya terhadap limbah ternak. “Dulu kami anggap kotoran sapi cuma limbah. Sekarang, itu jadi sumber energi di dapur kami,” tuturnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi berbagi. Kymad dari Enter Nusantara menjelaskan cara kerja sistem biogas serta pentingnya perawatan berkala. Pada kesempatan yang sama, Rosdiana memaparkan potensi bio slurry sebagai hasil samping dari proses biogas. Menurutnya, bio slurry dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang membantu memperkaya tanah pertanian sehingga dampak keberlanjutan terasa lebih menyeluruh.

Puncak kegiatan ditandai dengan serah terima simbolis antara tim Ground to Gas dan perwakilan masyarakat desa, disertai penandatanganan dokumen serta komitmen bersama untuk menjaga keberlanjutan sistem.

Ilham, project lead Ground to Gas, menekankan bahwa inisiatif ini tidak hanya berfokus pada aspek teknis. “Proyek ini bukan hanya soal teknologi, tapi soal kepercayaan dan kolaborasi. Kami berharap semangat ini bisa menular ke desa-desa lain di Indonesia,” katanya.

Semangat gotong royong yang terbentuk selama proses implementasi disebut menjadi pondasi penting bagi keberlanjutan program. Proyek “Ground to Gas” juga menunjukkan peran mahasiswa tidak terbatas pada ranah akademik, melainkan dapat menjadi agen perubahan bagi masyarakat dan lingkungan.