Loka Tua Mata Api dimanfaatkan sebagai ruang kreativitas mahasiswa STKIP Citra Bakti di Ende untuk mengembangkan ide, musik, dan karakter yang berakar pada budaya lokal. Ruang ini menghadirkan pendekatan pembelajaran yang tidak hanya bersifat formal, tetapi juga reflektif dan kolaboratif.
Melalui Program Komunitas Bicara RRI, digelar diskusi yang membahas peran Loka Tua Mata Api dalam pendidikan musik. Dalam diskusi tersebut, ruang ini disebut sebagai inovasi yang menggabungkan tradisi dengan pendidikan modern.
Koordinator Program Studi Pendidikan Musik STKIP Citra Bakti, Ferdinandus Bete Dopo, S.Fil., M.Pd., menjelaskan bahwa konsep Loka Tua Mata Api berangkat dari kegelisahan terhadap makna perkuliahan musik. Ia menilai, perkuliahan musik tidak cukup jika hanya berfokus pada keterampilan memainkan alat musik. “Kalau hanya sekadar bermain alat musik, mahasiswa tidak perlu kuliah di kampus,” ujarnya.
Menurut Ferdinandus, Loka Tua Mata Api menjadi ruang refleksi untuk memahami musik secara lebih luas. Ia memandang musik sebagai relasi sosial yang tumbuh dari interaksi antarmanusia.
Mahasiswa pun merasakan dampak langsung dari keberadaan ruang tersebut dalam proses belajar. Kegiatan diskusi, pertunjukan, dan kolaborasi menjadi bagian penting dalam pengembangan diri mereka.
Anggota komunitas, Edmon Rani, mengatakan ruang ini mendorong keberanian mahasiswa untuk berekspresi. Ia menekankan bahwa setiap mahasiswa memiliki kesempatan yang sama untuk tampil dan menyampaikan ide. “Semua mahasiswa punya kesempatan yang sama untuk tampil dan menyampaikan ide,” katanya.