Film bertema pembunuh berantai kerap identik dengan adegan sadis dan ketegangan instan. Namun, ada sejumlah judul yang memilih pendekatan berbeda—lebih psikologis, lebih sunyi, atau justru terasa terlalu dekat dengan realitas—hingga meninggalkan rasa tidak nyaman yang bertahan lama. Meski memiliki reputasi kuat di kalangan tertentu, film-film ini relatif jarang dibicarakan di luar komunitas penggemar horor dan penonton festival.
The Poughkeepsie Tapes (2007) mengusung format mockumentary dan found footage. Ceritanya bermula dari penemuan ratusan rekaman video milik pembunuh berantai yang dijuluki Water Street Butcher. Melalui rekaman tersebut, penonton diajak menyaksikan penculikan, penyiksaan, hingga permainan psikologis terhadap korban-korbannya. Salah satu yang menonjol adalah kisah Cheryl Dempsey (Stacy Chbosky), perempuan muda yang diculik, disiksa, dan dipaksa hidup sebagai budak sang pelaku.
Stranger by the Lake (2013) dari Prancis menempatkan teror dalam ruang yang tampak tenang: sebuah danau. Film garapan Alain Guiraudie ini mengikuti Franck (Pierre Deladonchamps) yang jatuh hati pada Michel (Christophe Paou), pria berkarisma dengan aura misterius. Ketertarikan itu berubah menjadi dilema ketika Franck menyaksikan Michel membunuh pasangannya di danau. Alih-alih menjauh, Franck justru terjerat hubungan yang makin intens dengan sosok berbahaya tersebut. Film ini sempat meraih Queer Palm di Cannes Film Festival, namun tetap sulit menembus pasar arus utama karena konten seksual yang eksplisit dan gaya arthouse yang kuat.
The Voices (2014) menampilkan Ryan Reynolds sebagai Jerry, pria lugu yang baru keluar dari rumah sakit jiwa dan bekerja di sebuah pabrik. Setelah berhenti mengonsumsi obat, Jerry mulai mendengar suara dari hewan peliharaannya: anjing bernama Bosco yang terdengar bijak, serta kucing Mr. Whiskers yang licik. Situasi berubah menjadi tak terkendali ketika kencan pertamanya dengan Fiona (Gemma Arterton), rekan kerja yang disukainya, berujung pada tragedi dan pembunuhan. Film arahan Marjane Satrapi ini disebut memiliki pendekatan yang nyeleneh, absurd, sekaligus tetap mengganggu.
I Am Not a Serial Killer (2016), adaptasi novel karya Dan Wells, berfokus pada John Cleaver (Max Records), remaja yang menyadari dirinya memiliki tiga ciri khas pembunuh berantai. Ia berusaha menahan dorongan gelap tersebut dengan “kode moral” yang ia buat sendiri. Namun, pertemuannya dengan tetangga bernama Mr. Crowley (Christopher Lloyd) justru membuka rahasia yang lebih mengerikan. Disutradarai Billy O’Brien, film ini memadukan misteri dan psikologi dengan sentuhan horor, bergerak dari kesan kisah awal seorang calon pembunuh berantai menuju duel yang semakin menegangkan.
Red Rooms (2023) menutup daftar dengan pendekatan yang menekankan atmosfer dan obsesi ketimbang tumpahan darah. Film Kanada arahan Pascal Plante ini mengikuti Kelly-Anne (Juliette Gariépy), seorang model yang rela tidur di jalan demi mendapatkan kursi di persidangan pembunuh berantai terkenal, Ludovic Chevalier. Ludovic dituduh membunuh tiga remaja perempuan, dengan bukti-bukti mengganggu yang membuat kasusnya menyita perhatian publik. Seiring cerita berjalan, Kelly-Anne kian tenggelam dalam obsesi gelapnya, hingga batas antara rasa ingin tahu dan kegilaan menjadi samar.
Lima judul tersebut menawarkan pengalaman menonton yang berbeda dari film serial killer populer yang lebih “aman” bagi penonton umum. Bagi sebagian orang, justru pendekatan yang lebih sunyi, ambigu, atau terasa realistis itulah yang membuatnya sulit dilupakan.

