Harapan seniman terhadap keberlanjutan pembangunan gedung teater modern di kawasan taman budaya hingga kini belum terwujud. Gedung yang semula dibangun sebagai ruang pertunjukan seni itu disebut mangkrak, sementara para seniman telah menunggu bertahun-tahun tanpa tanda-tanda kelanjutan pembangunan.
Kondisi tersebut memunculkan kekecewaan di kalangan seniman. Ketiadaan panggung yang siap digunakan membuat sebagian dari mereka enggan menggarap naskah teater, karena ruang pertunjukan yang diharapkan tak kunjung tersedia.
Kekecewaan itu disebut semakin memuncak ketika muncul kabar kawasan taman budaya akan dibangun hotel bintang lima, dengan desain yang disebut sudah rampung. Para seniman kemudian melakukan aksi protes dan menyatakan penolakan terhadap rencana pembangunan hotel tersebut. Aspirasi mereka, sebagaimana disebutkan, telah disalurkan ke berbagai pihak.
Situasi ini menjadi latar yang menginspirasi sutradara Boyke Sulaiman menyampaikan protes melalui karya panggung berjudul Namaku Ingrid. Dalam sinopsis yang ditulisnya, Boyke menggambarkan protes lewat lakon, setelah suara protes para seniman dinilai sudah “parau” namun belum mendapat respons.
Lakon itu berkisah tentang sebuah gedung kesenian tua yang terbengkalai dan menjadi saksi merosotnya semangat kebudayaan. Dari reruntuhan tersebut, arwah seorang noni Belanda bernama Inggrid bangkit—bukan untuk menakuti, melainkan menegur manusia yang membiarkan seni mati perlahan. Inggrid diceritakan meninggal di rumah dansa yang dahulu hidup oleh tawa, musik, dan pertunjukan, namun kini dibiarkan terabaikan.
Inggrid hadir di tengah para aktor yang digambarkan lusuh—penjaga roh teater—yang memainkan drum oli, pipa, dan rantai. Bunyi-bunyian logam menjadi simbol perlawanan terhadap kekuasaan yang menggantikan panggung dengan bisnis. Denting besi, pukulan drum, dan cahaya redup menjadi bahasa dari “panggung yang menolak mati.”
Para aktor dalam lakon itu menggugat, meratap, dan menolak menyerah. Mereka digambarkan mengelus tiang-tiang retak, memeluk dinding, serta menyuarakan sumpah bahwa seni tidak akan hilang meski gedungnya dibiarkan terbengkalai. Inggrid kemudian bersatu dengan mereka, bersama arwah seniman lain, mempertemukan ingatan masa lalu dengan tubuh masa kini dalam perlawanan yang sunyi.
Pementasan berakhir ketika seorang aktor menyerahkan sepotong besi kepada penonton sebagai tanda warisan perlawanan. Dalam suara samar, Inggrid mengingatkan bahwa bukan dirinya yang patut ditangisi, melainkan panggung yang dikubur tanpa nisan.

