Penyelenggaraan konser musik di Kota Sukabumi kembali menjadi perhatian publik. Sorotan kali ini tidak tertuju pada perizinan, kemeriahan acara, maupun kualitas penampilan musisi, melainkan pada aksi panggung sejumlah pengisi acara yang dinilai lebih mengumbar sensualitas dibandingkan nilai seni.
Ketua Laskar Fisabilillah, Abi Kholil, menyebut gerakan tari yang dianggap provokatif serta busana yang dinilai terlalu terbuka telah memicu perdebatan di tengah masyarakat. “Sebagian warga menilai pertunjukan konser tidak lagi mencerminkan hiburan yang edukatif dan berbudaya, melainkan mengarah pada eksploitasi sensualitas untuk menarik perhatian penonton,” ujarnya, Kamis (16/7/2026) malam.
Menurut Abi Kholil, kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai batas antara kebebasan berekspresi dalam seni dengan penghormatan terhadap norma sosial yang berlaku di masyarakat. Ia menilai Sukabumi selama ini dikenal menjunjung nilai budaya Sunda dan religius, sehingga hiburan di ruang publik diharapkan tetap memperhatikan etika, kepatutan, serta karakter budaya lokal.
Ia juga berpendapat panggung musik semestinya menjadi ruang apresiasi seni dan kreativitas, bukan mengandalkan sensasi sebagai daya tarik utama. Menurutnya, kualitas musikalitas tetap dapat menjadi kekuatan utama sebuah pertunjukan tanpa mengesampingkan norma yang hidup di tengah masyarakat.
Selain itu, Abi Kholil menyoroti potensi dampak terhadap generasi muda yang disebutnya menjadi salah satu kelompok penonton terbesar dalam berbagai konser musik. Ia menilai ruang publik memiliki tanggung jawab menghadirkan hiburan yang tidak hanya menarik, tetapi juga menghormati nilai-nilai sosial dan budaya.
“Kebebasan berekspresi adalah hak setiap seniman. Namun, kebebasan tersebut juga membawa tanggung jawab untuk menghormati norma, budaya, dan karakter masyarakat tempat pertunjukan itu digelar,” tegasnya melalui sambungan seluler.
Abi Kholil berharap perdebatan mengenai etika pertunjukan dapat menjadi bahan evaluasi bagi seluruh pihak, mulai dari penyelenggara acara, pengisi acara, tokoh masyarakat, hingga pemerintah daerah. Evaluasi tersebut dinilai penting agar konser musik di Kota Sukabumi tetap menjadi ruang hiburan yang kreatif, aman, serta selaras dengan nilai-nilai budaya lokal.