BERITA TERKINI
Lagu “Bololeng” Angkat Dialek Ambon dan Jajanan Tradisional Maluku lewat Hip Hop

Lagu “Bololeng” Angkat Dialek Ambon dan Jajanan Tradisional Maluku lewat Hip Hop

Lagu hip hop berjudul “Bololeng” karya musisi Ambon Grizzly Cluive menjadi perhatian karena tidak hanya menonjolkan unsur musik, tetapi juga menghidupkan dialek Ambon serta memperkenalkan jajanan tradisional khas Maluku melalui liriknya.

Dalam program Siniar Keker RRI Ambon bersama host Tio Nugroho, Grizzly menjelaskan bahwa lagu tersebut lahir pada 2020, saat pandemi COVID-19 membatasi aktivitas masyarakat dan membuat banyak orang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Dari situ, ia terinspirasi oleh kebiasaan warga Ambon menikmati sore hari dengan minum kopi atau teh ditemani aneka kue tradisional.

Ia menyebut “Bololeng” sebagai semacam catatan digital. Menurutnya, keberadaan jajanan tradisional tertentu bisa saja semakin jarang ditemukan di masa depan, sehingga ia ingin mendokumentasikannya melalui karya musik. “Ini semacam catatan digital, karena ke depan belum tentu jajanan-jajanan ini masih ada,” ujarnya.

Di dalam lagu, Grizzly menyebut sejumlah makanan khas, di antaranya pulut srikaya, nagasari, campada, sukun goreng, hingga pisang goreng. Ia juga menjelaskan bahwa istilah “bololeng” merupakan sebutan lama untuk roti goreng berisi kentang yang kini lebih dikenal masyarakat.

Keunikan lain dari “Bololeng” adalah penggunaan dialek Ambon secara penuh. Beberapa istilah lokal turut dimasukkan dalam lirik, termasuk “kancing tiga” yang ia artikan sebagai mengambil atau “menyikat” tiga buah sekaligus. Grizzly mengatakan pemilihan judul “bololeng” juga sengaja dibuat unik untuk memancing rasa penasaran pendengar.

Saat pertama dirilis, respons masyarakat beragam. Sebagian menilai lagu tersebut unik karena didominasi penyebutan nama-nama makanan, sementara yang lain melihatnya sebagai bentuk dokumentasi budaya. Grizzly menegaskan bahwa tujuan utamanya memang untuk mencatat. “Memang tujuannya untuk mencatat, supaya nanti kalau sudah jarang ditemukan, masih bisa dilihat,” katanya.

Selain mengangkat kuliner, ia menyebut sebagian besar jajanan yang disebut dalam lagu masih dapat ditemukan di sejumlah lokasi di Ambon, seperti Batu Merah, Urmeseng, hingga kawasan sekitar Masjid Al-Fatah, terutama pada bulan Ramadan.

Dalam kesempatan yang sama, Grizzly juga menceritakan perjalanan kariernya di dunia hip hop yang dimulai sejak 2010, saat genre tersebut mulai berkembang di Ambon. Ia menilai perkembangan kala itu dipengaruhi tren global dan fenomena diss track antarkomunitas yang menarik perhatian anak muda. “Hampir setiap sekolah atau kompleks punya grup hip hop waktu itu,” ujarnya.

Setelah aktif di berbagai grup, ia membentuk kolektif Getoside pada 2018 bersama beberapa komunitas hip hop lainnya. Meski telah lama berkarya, Grizzly menyebut dirinya baru mulai serius menjadikan musik sebagai profesi pada 2022.

Hingga kini, ia telah menghasilkan puluhan karya dan mulai mengembangkan warna musik baru seperti disco rap dan alternative rap yang terinspirasi dari musisi internasional. Ia memandang hip hop bukan hanya media ekspresi, tetapi juga membuka peluang bagi anak muda untuk menekuni berbagai peran, mulai dari musisi, audio engineer, hingga videografer.

“Hip hop mungkin tidak langsung kasih uang, tapi hip hop kasih jalan,” katanya.

Namun, ia juga menyoroti minimnya regenerasi musisi hip hop di Ambon saat ini. Menurutnya, tantangan terbesar bukan lagi akses informasi, melainkan kemauan untuk memulai. Melalui karya seperti “Bololeng”, Grizzly berharap generasi muda terus berkarya sekaligus turut melestarikan budaya lokal, baik lewat musik maupun bentuk kreativitas lainnya.