Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menggelar seminar dan lokakarya internasional bertajuk International Conference on Innovation, Reflection, and Creativity in Arts, Literature, and Language Education (I-CIRCALLED), Selasa, 14 Oktober 2025. Kegiatan berlangsung di Aula Bung Hatta, Kampus UNJ, Jakarta.
Konferensi ini mengusung tema “Transformative and Impactful Education: Integrating Arts, Literature, and Language in Achieving the Sustainable Development Goals (SDGs)”. Forum tersebut menitikberatkan pada pendidikan transformatif melalui integrasi seni, sastra, dan bahasa untuk mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.
Ketua panitia, Nursilah, yang juga dosen FBS UNJ, menyampaikan kegiatan diikuti sekitar 250 peserta dari berbagai perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan komunitas seni, baik dari dalam maupun luar negeri. Ia menyebut forum ini menjadi ruang akademik yang komprehensif dan interdisipliner untuk berbagi gagasan, hasil penelitian, serta praktik kreatif di bidang bahasa, sastra, dan seni.
Dekan FBS UNJ, Samsi Setiadi, menegaskan I-CIRCALLED merupakan wujud komitmen fakultas dalam mendorong inovasi, refleksi, dan kreativitas lintas bidang. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi internasional untuk memperkuat praktik pendidikan yang berdampak.
Konferensi menghadirkan narasumber dari lima negara, yakni Prof. Ifan Iskandar (Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni UNJ), Salman Al-Farisi (Universitas Pendidikan Sultan Idris, Malaysia), Prof. Suraiya Sulaiman (Prince of Songkla University, Thailand), Phillippe Grange (La Rochelle Université, Prancis), serta Menasri Wafa (University Center of El Bayadh, Aljazair).
Dalam pemaparannya, Prof. Ifan Iskandar menyampaikan pelaksanaan seminar sejalan dengan prinsip pendidikan UNESCO: belajar untuk mengetahui, belajar untuk melakukan, belajar untuk menjadi, belajar untuk hidup bersama, dan belajar untuk belajar. Ia juga menyoroti tantangan global seperti perubahan iklim, krisis pangan dan air, konflik, serta hilangnya biodiversitas yang menuntut pendidikan hijau dan perdamaian melalui pendekatan transformatif.
Prof. Ifan membawakan materi berjudul “Humanizing Education Through Digital Literacy and Ecopedagogy Contextualization in Transformative and Impactful Education”. Ia menekankan pentingnya literasi digital dan pendekatan ekopedagogi dalam membentuk generasi pembelajar yang kritis serta adaptif terhadap perubahan global.
Salman Al-Farisi mengangkat tema “Applying Theory and Artistic Inquiry and Creative Practice: Bridging the Knowledge-Practice Gap for Arts Students”. Ia menyoroti perlunya pembelajaran berbasis pengalaman untuk menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik dalam pendidikan seni.
Sementara itu, Phillippe Grange memaparkan “Why France Lost Its Linguistic Diversity and How Indonesia is Maintaining It”. Ia membahas hilangnya bahasa daerah di Prancis akibat kebijakan sentralisasi, sekaligus mengapresiasi Indonesia yang dinilai berhasil menjaga keberagaman linguistik melalui kebijakan pelestarian bahasa daerah.
Prof. Suraiya Sulaiman menyampaikan materi “From Telescreen to Spyware: Using George Orwell’s 1984 to Develop Critical Thinking Skills and Media Literacy in Literature Classrooms”. Ia mengaitkan novel 1984 dengan kondisi masyarakat modern yang hidup di bawah pengawasan digital, serta menekankan pentingnya literasi media dan keberanian menyuarakan kebenaran.
Menasri Wafa membawakan paparan “Language, Technology, and Diplomacy for a Sustainable World”. Ia menyoroti tantangan keberagaman linguistik di era pascamodern, serta menekankan pentingnya kebijakan politik yang berdaulat untuk melindungi bahasa ibu dan mencegah dominasi bahasa global yang berpotensi menciptakan hegemoni baru.

