Kementerian Kebudayaan RI menggelar Manajemen Talenta Nasional (MTN) bidang seni budaya di Auditorium Universitas Negeri Padang (UNP), Padang, Senin (8/9/2025). Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi nasional untuk menemukan, membina, dan menghubungkan talenta seni dengan ekosistem kreatif yang lebih luas agar mampu berkompetisi di tingkat global.
Acara tersebut menampilkan karya seni budaya khas Sumatera Barat dan menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Ahmad Fuadi, Ratih Kumala, Yusi Avianto Pareanom, Heru Joni Putra, dan Yusrizal KW.
Rektor UNP Dr. Ir. Krismadinata menyambut baik pelaksanaan MTN seni budaya di kampusnya. Ia menilai Sumatera Barat memiliki sejarah panjang dalam melahirkan tokoh nasional di berbagai bidang, termasuk seni, politik, dan perdagangan.
“Kita berharap MTN dapat melahirkan talenta-talenta seniman muda asal Sumatera Barat. UNP siap mendukung penuh dan berkolaborasi lintas sektor untuk memperkuat industri kreatif daerah,” ujar Krismadinata.
Sementara itu, Staf Khusus Menteri Kebudayaan RI Nissa Rengganis menekankan bahwa sastra tidak hanya merupakan karya kreatif, tetapi juga instrumen diplomasi budaya serta penguat identitas bangsa. Ia mencontohkan kiprah para alumni UNP yang telah mewarnai dunia sastra nasional, di antaranya Boy Candra melalui novel-novelnya yang digemari anak muda, serta Harris Effendi Thahar dengan cerpen-cerpennya yang dipublikasikan di berbagai media nasional seperti Horison dan Kompas.
“MTN bidang sastra adalah upaya strategis memastikan penulis, penyair, peneliti, penerjemah, hingga kritikus sastra Indonesia dapat teridentifikasi, terfasilitasi, dan berkembang sesuai potensinya,” kata Nissa.
MTN merupakan program lintas kementerian yang dikoordinasikan oleh Kementerian PANRB. Untuk bidang seni budaya, Kementerian Kebudayaan menjadi penanggung jawab utama dengan cakupan sastra, seni rupa, seni pertunjukan, musik, dan film.
Melalui program ini, pemerintah menargetkan Indonesia tidak hanya menjadi konsumen budaya global, tetapi juga produsen karya kreatif yang diakui dunia. Nissa menambahkan, Kementerian Kebudayaan berperan sebagai fasilitator dalam menemukan talenta di berbagai daerah, menyediakan ruang pembinaan berkelanjutan, serta menghubungkan mereka dengan ekosistem penerbitan, festival sastra, dan jejaring internasional.

