Tren local pride belakangan kian populer di dunia fesyen Indonesia. Kebanggaan mengenakan produk lokal—mulai dari kaos, celana, topi, hingga sepatu—semakin jamak di kalangan anak muda. Kesadaran ini dinilai berdampak positif bagi perkembangan industri fesyen Tanah Air, terutama bagi pelaku UMKM yang merintis bisnis di sektor tersebut.
Namun, dukungan terhadap brand lokal sejatinya sudah tumbuh jauh sebelum istilah local pride ramai digunakan. Pada era 2000-an, ketika skena skate dan musik indie menguat, berbagai brand lokal sempat merajai distro-distro yang mulai menjamur di Indonesia. Sejumlah nama dari periode itu masih bertahan dan terus bergerak hingga kini.
Unkl347
Unkl347 merupakan brand asal Bandung yang dikenal dengan kualitas produk dan desain yang dianggap elegan oleh penggemarnya. Brand ini juga disebut telah mendapat pengakuan hingga mancanegara.
Dalam perkembangan terbaru, Unkl347 berkolaborasi dengan brand sepatu lokal Compass dalam rangka perayaan ulang tahun ke-25. Kolaborasi tersebut melahirkan 25 desain sepatu yang dijual dalam jumlah terbatas.
Proshop X-Wear
Proshop X-Wear, atau lebih dikenal sebagai Proshop, adalah brand streetwear yang didirikan di Bandung pada 1996. Dalam beberapa waktu terakhir, produk yang disebut paling diminati adalah hasil kolaborasi Proshop dengan Dewa 19.
Kolaborasi itu menghadirkan sejumlah item seperti stiker, pin, topi, kaos, dan hoodie. Produk-produk tersebut kerap dilaporkan habis terjual meski tidak diproduksi secara eksklusif atau terbatas.
Black ID
Black ID pernah lekat dengan nama Pasha Ungu karena sempat menjadikannya brand ambassador. Brand lokal ini disebut masih bertahan sejak 2004 hingga sekarang.
Black ID juga masih merilis produk yang dinilai berkualitas dan menarik. Informasi produk dapat dilihat melalui Facebook Black ID Indonesian Apparel dan Instagram @blackidclothing, sementara pembelian disebut tersedia di Shopee melalui Black ID Official Shop.
Crooz
Crooz adalah brand asal Jakarta yang hadir mewarnai distro sejak 2003. Brand ini memiliki kedekatan dengan skena skateboard, lalu makin dikenal secara luas.
Di antara sejumlah nama lama, Crooz disebut sebagai salah satu yang paling konsisten bertahan di tengah kemunculan banyak brand lokal baru. Perbincangan mengenai Crooz juga masih kerap muncul hingga kini.
Diery
Diery merupakan brand lokal asal Bandung yang dikenal pada masa kejayaan distro, dengan ciri logo jamur dan dua tulang. Perkembangan brand ini disebut tidak mudah dilacak karena tidak ditemukan situs resmi.
Meski demikian, Diery masih dapat ditelusuri melalui Instagram @dierylimited, yang memuat gambar produk terbaru serta tautan marketplace tempat penjualan. Dibandingkan beberapa brand lain, nama Diery disebut relatif paling jarang terdengar belakangan ini.
Sejumlah brand lokal era distro tersebut menunjukkan bahwa sebagian pelaku lama masih mampu bertahan dan beradaptasi, baik lewat kolaborasi, kanal penjualan daring, maupun menjaga kedekatan dengan komunitas yang membesarkannya.
- Penulis naskah asli: Ahmad Arief Widodo
- Pembaruan terakhir: 27 Februari 2022 (Rizky Prasetya)

