BERITA TERKINI
Jogja International Art Fair Perdana Digelar, Libatkan 2.000 Seniman dan Targetkan 15.000 Pengunjung

Jogja International Art Fair Perdana Digelar, Libatkan 2.000 Seniman dan Targetkan 15.000 Pengunjung

Yogyakarta menyiapkan agenda seni rupa berskala besar pada akhir tahun melalui penyelenggaraan perdana Jogja International Art Fair (JIAF). Pameran ini akan digelar di Jogja Expo Center (JEC) pada 31 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026.

Berbeda dari pameran seni pada umumnya, JIAF mengajak sekitar 2.000 seniman dari dalam negeri dan mancanegara untuk berpartisipasi. Seluruh ruang gedung JEC akan digunakan untuk menampilkan karya, sehingga ajang ini diproyeksikan menjadi salah satu pameran seni terbesar yang pernah digelar di Indonesia.

Panitia JIAF 2025, Maria Novita Riatno, mengatakan JIAF dirancang sebagai ruang bersama bagi seniman, kolektor, dan masyarakat untuk bersilaturahmi. Ia menekankan bahwa semua seniman, baik yang baru merintis maupun yang sudah mapan, mendapat ruang setara untuk menampilkan karya terbaiknya. Pernyataan itu disampaikan pada Senin, 29 September 2025.

Selama tiga hari penyelenggaraan, panitia menargetkan 15.000 pengunjung. Konsep yang diusung adalah Art Market meets Exhibition, yang memungkinkan pengunjung menikmati ribuan karya dalam suasana pameran sekaligus pasar seni.

JIAF membagi pameran ke dalam empat segmen. Segmen Artist-Direct disiapkan bagi seniman independen, Emerging untuk bakat-bakat baru, Established untuk seniman dan galeri mapan, serta Iconic sebagai penghormatan kepada maestro seni rupa Indonesia. Menurut Novita, segmentasi ini bertujuan memastikan keberagaman dan kesinambungan, sekaligus memberi kesempatan publik merasakan perjalanan artistik dari tahap awal hingga pencapaian puncak.

Novita juga menyebut pengunjung dapat melihat lebih dari 2.000 portofolio seniman yang dipamerkan dalam ajang tersebut. JIAF turut mengundang kolektor dari lima negara, menyediakan sesi private viewing khusus kolektor, serta katalog digital untuk memudahkan pihak yang berminat membeli karya.

Terkait perkembangan pasar, Novita menyampaikan bahwa dalam lima tahun terakhir pasar seni Indonesia mencatat pertumbuhan sekitar 15–20 persen per tahun. Kehadiran JIAF 2025 diproyeksikan menjadi momentum untuk memperkuat tren tersebut, dengan Yogyakarta dinilai memiliki potensi besar berkat basis seniman kreatif dan pasar domestik yang terus berkembang.

Kurator seni Mike Susanto menilai JIAF 2025 berpeluang menjadi bagian penting dalam pembentukan peta industri seni rupa dunia. Menurutnya, dengan semangat lokal yang kuat namun terbuka pada percakapan global, JIAF dapat berperan sebagai jembatan yang menghubungkan dinamika seni rupa Indonesia dengan pasar dan wacana internasional. Ia juga menilai ekosistem seni di Yogyakarta membuat JIAF bukan sekadar ajang pamer, melainkan ruang temu antara kreativitas, kolektor, kurator, dan publik global yang ingin memahami geliat seni rupa kontemporer Indonesia.

Kurator Nadiyah Tuminah menambahkan, JIAF turut menyiapkan program Encounters: Cross Layers of Art yang mempertemukan seniman dari berbagai tahap karier. Program ini disebut bertujuan menciptakan dialog, memperkuat jejaring antar seniman, serta membuka kesempatan kolaborasi lintas generasi. Menurut Nadiyah, pertemuan lintas jenjang tersebut diharapkan memperkaya pengalaman publik dan turut menguatkan posisi Indonesia dalam percakapan seni rupa global.