Nama H. Mahbub Djunaidi kerap disebut sebagai salah satu kolumnis paling berpengaruh pada masanya. Gaya menulisnya yang satir dan lincah membuat banyak pembaca terkesan—bahkan memunculkan rasa takjub, penolakan, hingga kecemburuan dari sebagian kalangan.
Penulis dan jurnalis Goenawan Mohamad, misalnya, pernah mengungkapkan kecemburuannya terhadap kemampuan Mahbub menyampaikan isu serius dengan cara yang membuat orang tertawa. Dalam catatan yang dimuat dalam Asal-Usul (Catatan-Catatan Pilihan Mahbub Djunaidi) terbitan Ircisod (2018), Goenawan menilai Mahbub mampu mengolah bahasa Indonesia secara tak terduga melalui perumpamaan-perumpamaan yang tidak membosankan.
Tak hanya tokoh organisasi, juga figur pers dan politik
Di mata banyak orang, Mahbub dikenal sebagai ketua pertama Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Namun kiprahnya tidak berhenti di sana. Ia juga pernah menjadi Pemimpin Redaksi Duta Masyarakat (surat kabar Partai Nahdlatul Ulama), Anggota DPR-GR/MPRS, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), serta pemenang Sayembara Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).
Kolom-kolom Mahbub berisi opini mengenai berbagai peristiwa pada masanya—dari politik, ekonomi, sosial, hingga budaya—yang dikemas dengan satire, ketajaman, dan perumpamaan yang kerap mengejutkan pembaca.
Mahbub dan kritik tentang “calon” dalam kontestasi politik
Kontestasi politik menjadi salah satu tema yang ikut disorot Mahbub. Dalam sejumlah tulisannya, ia menyinggung figur “calon” yang hendak tampil sebagai pemimpin, termasuk dalam konteks pemilu maupun pemilihan di berbagai ranah.
Salah satu tulisannya berjudul Calon yang dimuat di Kompas pada 18 Januari 1987. Dalam esai itu, Mahbub menggambarkan bagaimana masyarakat seharusnya mengapresiasi para calon yang ingin memimpin. Ia menulis bahwa penduduk kerap memandang calon-calon sebagai sosok “elok belaka” karena tekad pengabdian mereka dianggap cukup menjadi bukti kesediaan mewakili rakyat. Mahbub juga menyindir bahwa para calon sebenarnya bisa memilih jalur lain—misalnya menjadi pengusaha besar—tetapi mereka memilih jalan yang menuntut pengorbanan demi kepentingan banyak orang.
Selain itu, ada esai bertajuk Calon-Calon Itu yang termuat dalam buku Kolom Demi Kolom (Ircisod, 2018). Di sana, Mahbub mengingatkan pepatah “sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tiada berguna” dalam konteks pemilu. Ia menekankan bahwa peringatan itu tidak ditujukan kepada mereka yang memilih secara asal-asalan, maupun kepada mereka yang merasa berhak untuk tidak menggunakan hak pilihnya.
Relevansi bagi pembaca hari ini
Gagasan-gagasan Mahbub tentang para “calon” memperlihatkan cara pandangnya terhadap proses memilih pemimpin dan tanggung jawab warga dalam menentukan pilihan. Melalui satire, ia menempatkan tindakan memilih—atau tidak memilih—sebagai sesuatu yang membawa konsekuensi.
Di tengah berbagai kontestasi kepemimpinan, termasuk di ruang-ruang organisasi, tulisan-tulisan Mahbub dapat dibaca sebagai pengingat agar setiap orang yang berniat “mengkhidmatkan” diri memahami kapasitasnya serta mempertimbangkan indikator-indikator kepemimpinan yang dibutuhkan. Pada saat yang sama, pembaca juga diajak untuk tidak bersikap serampangan dalam menggunakan hak pilih.
- Mahbub Djunaidi dikenal sebagai kolumnis dengan gaya satir dan perumpamaan tak terduga.
- Goenawan Mohamad menilai Mahbub mampu membuat pembaca tertawa meski membahas hal serius.
- Mahbub menulis tentang fenomena “calon” pemimpin dalam esai Calon (1987) dan Calon-Calon Itu (dalam Kolom Demi Kolom).
- Tulisannya menekankan pentingnya sikap bertanggung jawab dalam memilih, serta kritik terhadap pilihan yang asal-asalan atau sikap menolak menggunakan hak pilih.

