Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) terpantau lesu sepanjang Kamis (4/9/2025). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,23 persen atau turun 18,51 poin ke level 7.867.
Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menilai pelemahan IHSG dipengaruhi kabar Bank Indonesia (BI) yang menyepakati skema burden sharing dengan pemerintah. Skema tersebut membagi rata biaya dana dari obligasi yang diterbitkan pemerintah. Biaya itu juga dikurangi bunga yang diperoleh pemerintah dari simpanannya di lembaga keuangan domestik.
Skema burden sharing sebelumnya juga pernah diterapkan pada masa pandemi Covid-19 ketika kondisi dinilai darurat. Menurut Pilarmas, pasar tampak berspekulasi bahwa perekonomian Indonesia masih terkontraksi karena skema semacam itu umumnya digunakan saat situasi darurat.
Dalam perkembangan terkait, BI disebut telah membeli obligasi pemerintah senilai Rp200 triliun di pasar sekunder. Pembelian tersebut termasuk Rp150 triliun melalui mekanisme debt switch dengan pemerintah. Debt switch merupakan pembelian kembali Surat Utang Negara dengan cara penyerahan Surat Utang Negara seri lain. BI menyampaikan kesepakatan ini dirancang untuk mendukung upaya pemerintah menghimpun dana melalui pasar obligasi guna membiayai berbagai program.
Pilarmas juga menyebut pelemahan IHSG turut dipengaruhi aksi ambil untung investor menjelang libur nasional. Pada perdagangan hari ini, mayoritas saham ditutup melemah: 412 saham turun, 277 saham naik, dan 267 saham stagnan.
Dari sisi sektoral, sektor barang sekunder mencatat penguatan paling besar sebesar 3,61 persen. Sementara itu, sektor bahan baku mengalami penurunan terdalam, yakni minus 1,12 persen.
Aktivitas perdagangan mencatat volume 38,94 miliar lembar saham dengan frekuensi 1,90 juta transaksi. Nilai transaksi mencapai Rp14,06 triliun, dengan kapitalisasi pasar menjadi Rp14.211 triliun.
Di kawasan Asia-Pasifik, indeks saham ditutup bervariasi. Pelaku pasar disebut masih mempertimbangkan tekanan fiskal di sejumlah ekonomi besar. Namun, sebagian pelemahan tertahan oleh meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pada akhir bulan ini, setelah data lowongan kerja Amerika Serikat melemah.

