Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat koreksi tajam sebesar 5,2% secara mingguan (week-on-week) dan berkinerja lebih buruk dibanding mayoritas rekan pasar berkembang (emerging markets/EM). Pelemahan ini dipicu kombinasi hasil kinerja perbankan yang dinilai lemah, termasuk dari Bank Mandiri (BMRI), serta penurunan tajam sejumlah saham seperti BREN, PTRO, dan CUAN di tengah kabar pengecualian dari tinjauan MSCI yang akan datang.
Di saat yang sama, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) sebesar US$233 juta. Arus keluar terbesar terjadi pada saham BMRI dengan nilai sekitar US$138 juta.
Rekap hasil FY24: BMRI meleset, BRIS melampaui, konsumer sesuai ekspektasi
Sejumlah emiten perbankan telah merilis kinerja tahun buku 2024 (FY24), tidak termasuk BBRI. Dalam periode kuartal IV 2024 (4Q24), BBNI dan BMRI membukukan laba yang lebih rendah dari perkiraan, masing-masing sekitar 97–98% dari proyeksi konsensus untuk FY24. Meski demikian, kinerja BBNI disebut lebih sejalan dengan proyeksi yang lebih konservatif.
Perbankan: likuiditas ketat dan kenaikan LDR jadi sorotan
Laporan kuartal IV 2024 perbankan menunjukkan tren likuiditas yang ketat, tercermin dari naiknya loan-to-deposit ratio (LDR). BMRI mencatat LDR 98% dan BBNI 96%.
Meski kondisi ini telah diantisipasi, panduan manajemen BMRI untuk prospek FY25 menunjukkan moderasi atau perlambatan arah pertumbuhan. BMRI menargetkan menurunkan LDR ke kisaran menengah hingga rendah 90%, yang mengindikasikan kebutuhan pertumbuhan dana pihak ketiga (deposit growth) setidaknya 14%.
Pasca rilis kinerja FY24, proyeksi laba BMRI untuk FY25–FY26 diturunkan sebesar 5% dan 7%.
Sementara itu, Bank Syariah Indonesia (BRIS) mencatat hasil FY24 yang melampaui estimasi, didukung biaya kredit (cost of credit/CoC) yang lebih rendah. Target pertumbuhan pembiayaan (loan growth) FY25 dipertahankan pada kisaran 14–16%.
Sektor konsumer: menjadi titik terang
Di tengah tekanan pasar, sektor konsumer dinilai lebih solid dengan realisasi FY24 dan panduan kinerja yang relatif sejalan ekspektasi, terutama dari KLBF dan SIDO. KLBF melaporkan pendapatan FY24 (unaudited) sebesar Rp32,6 triliun, tumbuh 7,2% secara tahunan (year-on-year/yoy). Perusahaan juga mengarahkan pergeseran pembelian bahan baku farmasi (API) berbasis RMB untuk menekan eksposur terhadap dolar AS.
Implikasi proyeksi sektor perbankan
Pembaruan proyeksi sektor perbankan untuk FY25–FY26 setelah rilis FY24 mengindikasikan potensi penurunan tipis sekitar 0,5 poin persentase dari perkiraan dasar pertumbuhan EPS FY25 yang sebelumnya berada di level 6,5%.

