BERITA TERKINI
IHSG Melonjak 4,8% Pekan Lalu, Arus Dana Asing Kembali Masuk dan Valuasi Bank Dinilai Menarik

IHSG Melonjak 4,8% Pekan Lalu, Arus Dana Asing Kembali Masuk dan Valuasi Bank Dinilai Menarik

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 4,8% secara mingguan (w-w) dan menjadi yang terbaik di antara pasar negara berkembang (emerging markets/EM) pada pekan lalu. Kenaikan ini ditopang kombinasi saham berkapitalisasi besar berbasis fundamental—seperti BBRI yang naik 11% w-w, TLKM 13%, BBCA 5%, dan BMRI 4%—serta saham-saham yang kurang likuid dan konglomerasi seperti DCII dan DSSA.

Penguatan pasar juga didorong kembalinya arus dana asing dengan nilai sekitar US$412 juta. Indonesia tercatat menjadi satu-satunya pasar dengan arus masuk positif di antara Asian EM pada periode tersebut, dengan aliran dana yang menonjol menuju bank-bank besar dan TLKM.

Seusai reli pekan lalu, IHSG mencatatkan imbal hasil 11,6% sejak awal tahun (year-to-date/YTD), menjadi yang terbaik di kawasan ASEAN. Namun, kinerja ini masih tertinggal dibanding pasar Asia Utara, seperti Korea Selatan yang naik 34% dan Hong Kong 26%.

Untuk prospek berikutnya, target IHSG akhir tahun fiskal 2025 (FY25-end) direvisi naik menjadi 7.960. Pandangan positif untuk paruh kedua 2025 (2H25) didasarkan pada ekspektasi pemulihan pertumbuhan laba seiring membaiknya kondisi likuiditas serta peluang percepatan belanja pemerintah. Meski reli kuat telah membawa IHSG mendekati target tersebut, valuasi saham-saham fundamental dinilai masih menarik, khususnya sektor perbankan yang telah mengalami penurunan valuasi (de-rated) ke 2,1x price-to-book value (PBV), atau sekitar -0,7 standar deviasi dari rata-rata lima tahun.

Analis perbankan menilai tanda-tanda dasar seperti likuiditas yang mulai membentuk titik terendah (bottoming), kualitas aset yang tetap terkendali, serta meningkatnya kejelasan terkait program pemerintah Kopdes MP berpotensi menjadi sentimen positif bagi perbankan pada kuartal III 2025 (3Q25). Selain itu, penurunan estimasi laba dan kinerja yang tertinggal sejak awal tahun dinilai dapat membatasi risiko penurunan lebih lanjut.

Dari sisi kebijakan fiskal, pidato Presiden Prabowo mengenai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 menargetkan pertumbuhan PDB 5,4%, dengan defisit anggaran diperkirakan 2,5% dari PDB. Target pertumbuhan tersebut diharapkan ditopang program-program utama seperti ketahanan pangan, ketahanan energi, program makan bergizi (MBG), pendidikan, pembangunan desa, serta program koperasi. Namun, proyeksi kenaikan pendapatan pemerintah sebesar 10% secara tahunan (yoy) dinilai menantang.

Di sektor konsumer, kinerja sektor ini tercatat melemah YTD sebesar 9% dan kehati-hatian jangka pendek (ST) masih dipertahankan di tengah lemahnya daya beli segmen bawah. Meski begitu, ICBP disebut tetap menjadi pilihan utama, dengan prospek pertumbuhan yang dinilai lebih baik pada 2H25 seiring peluang peningkatan belanja pemerintah. Risiko margin masih menjadi perhatian karena sebagian biaya bahan baku tetap tinggi, namun target margin EBIT 20–22% dinilai masih dapat dicapai melalui optimalisasi beban operasional (opex). Estimasi laba FY25–26 dipangkas 3,9–8,7% dan target harga diturunkan menjadi Rp12.000, sementara rekomendasi beli (Buy) dipertahankan dengan pertimbangan profil pertumbuhan defensif dan valuasi yang dinilai menarik.

Sementara itu, dari sisi komoditas batubara, harga batubara Indonesia melanjutkan pemulihan. Indeks ICI3 dan ICI4 masing-masing naik ke US$58 per ton dan US$43 per ton, didorong peningkatan pembelian dari China serta pasokan yang ketat untuk pengiriman jangka pendek (ST). Kenaikan minat pembeli ini sejalan dengan kondisi persediaan batubara China di pelabuhan yang berada pada level 10, yang mengindikasikan potensi restocking musiman menuju akhir 3Q25.