BERITA TERKINI
HB Jassin dan Cara Menyelidik Karya Sastra: Antara Ilmu dan Getaran Hati

HB Jassin dan Cara Menyelidik Karya Sastra: Antara Ilmu dan Getaran Hati

Ketika Universitas Indonesia menganugerahi gelar doktor honoris causa kepada HB Jassin pada 14 Juni 1975, sang kritikus sastra justru menerimanya dengan rasa khawatir. Baginya, gelar kehormatan dari perguruan tinggi memiliki bobot dan otoritas ilmiah—dan di situlah letak kegelisahannya.

Kekhawatiran Jassin, sebagaimana ia ungkapkan dalam pidato penerimaan yang kemudian diterbitkan dalam buku Sastra Indonesia sebagai Warga Sastra Dunia (Yayasan Idayu, Jakarta, 1981), bercabang ke dua arah. Pertama, ia merasa apa yang telah ia lakukan di bidang kritik sastra Indonesia masih “sedikit sekali” dan “jauh dari apa yang disebut ilmiah”. Namun, pada saat yang sama, ia juga cemas bila pekerjaannya justru menjadi terlalu ilmiah—dalam arti hanya bekerja dengan otak.

Jassin menegaskan bahwa kesusastraan adalah suara hati. Karena itu, penyelidikan sastra bukan semata pekerjaan pikiran, melainkan terutama pekerjaan hati: ikut bergetar bersama objek yang diselidiki, lalu memantulkan kembali getaran itu dalam tulisan.

Menyelidiki seperti Jassin: Analisis yang Diimbangi Apresiasi

Gagasan “menyelidiki karya sastra seperti Jassin” merujuk pada cara membaca dan menuliskan hasil pembacaan sebagai rangkaian penyelidikan yang tetap mengandalkan kemampuan analisis, tetapi tidak mengabaikan kemampuan menangkap pesona dan getaran jiwa karya sastra.

Dalam praktiknya, hasil penyelidikan itu hadir dalam esai atau artikel yang memuat apresiasi dan kritik. Selain menyampaikan kembali getaran yang ditangkap dari karya, tulisan juga menempatkan karya tersebut dalam timbangan etika, estetika, dan logika.

Ilmiah, tetapi Tidak Kering

Bagi Jassin, membaca karya sastra berarti menghayati sumber pengalaman estetis yang berasal dari karya itu sendiri. Ia tidak menolak pendekatan ilmiah. Ia menekankan bahwa penyelidikan tetap perlu memperhatikan segi-segi objektif faktual. Namun, ia juga mengingatkan bahwa pendekatan yang melulu ilmiah akan terasa kering dan tidak memuaskan.

Yang ia rindukan adalah hasil penyelidikan yang menjadi “pertemuan yang akrab” antara objek yang diselidiki dan subjek yang menyelidiki. Bagi Jassin, pertemuan semacam itu lebih memuaskan karena di dalamnya tampak “lukisan diri pribadi” sang penulis kritik.

Jejak dalam Esai Kritik

Nuansa “pertemuan akrab” itu dapat dirasakan dalam esai-esai kritik Jassin, terutama yang terkumpul dalam empat jilid Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei (Gunung Agung, 1962), serta dalam buku-bukunya yang lain. Di sana, Jassin menimbang nama dan karya pengarang dengan dukungan fakta sebagai faktor analisis, namun sekaligus meneruskan getaran jiwa yang ia rasakan saat membaca.

Salah satu contoh yang dikemukakan ialah ketika Jassin menulis tentang novel Tidak Ada Esok karya Mochtar Lubis. Dalam esainya, ia menggambarkan seolah-olah sang pengarang membisikkan pada dirinya sendiri: “Ambillah kertas, tuliskan segala apa yang teringat olehmu, yang nyata dan yang samar, kejadian dan khayal, niscaya akan terdapat satu lukisan dari segala pengalaman dan tanggapan.” Gambaran itu menunjukkan bagaimana Jassin menangkap cara kerja batin pengarang melalui karya, meski ia tidak menyaksikan langsung proses penulisannya.

Tekad Menulis 20 Jilid yang Tak Tuntas

Majalah Horison No. 10 Tahun XXI (Oktober 1986) memuat wawancara Yusuf Susilo Hartono dengan Jassin berjudul “Kembalinya Pedang H.B. Jassin”. Wawancara itu menyambut kembalinya Jassin menulis kritik sastra setelah sekitar 13 tahun berhenti. Pada masa jeda itu, ia disebut menerjemahkan Max Havelaar, belajar bahasa Arab, dan kemudian menerjemahkan Al Quran.

Wawancara tersebut merupakan pernyataan kembali yang kedua, setelah wawancara dengan Parakitri yang juga dimuat di Horison (Nomor 8 Tahun XVII, 1982). Dalam kesempatan itu, Jassin menyatakan tekad untuk melanjutkan seri Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai hingga 20 jilid.

Ia menyampaikan keinginannya membahas para pengarang yang sudah mapan dari awal hingga yang terakhir, satu per satu, secara tuntas—sebagaimana ia pernah membicarakan Pramoedya Ananta Toer, Utuy Tatang Sontani, dan Nur Sutan Iskandar. Jassin juga menegaskan ia tidak pernah puas bila hanya membicarakan seorang pengarang berdasarkan satu buku.

Namun, tekad 20 jilid itu tidak pernah benar-benar ia tuntaskan.

Warisan Metode dan Pekerjaan yang Perlu Diteruskan

Di akhir refleksi atas jejak Jassin, muncul pandangan bahwa pekerjaan menyelidik karya sastra seperti yang ia lakukan patut diteruskan: baik metodenya yang memadukan analisis dan getaran hati, maupun tekadnya untuk mengulas sastrawan mapan beserta karya-karyanya secara menyeluruh.

Jika pekerjaan semacam itu dilakukan, bukan hanya akan lahir kelanjutan dari empat jilid yang sudah ada, tetapi juga akan membantu memetakan sejarah pencapaian sastra Indonesia dengan lebih lengkap. Pemetaan itu dinilai penting agar kekaburan peta sastra tidak dimanfaatkan untuk pendakuan-pendakuan yang dianggap tidak sejalan dengan upaya membina kehidupan sastra yang sehat dan bermartabat.

  • HB Jassin menekankan kritik sastra sebagai kerja pikiran sekaligus kerja hati.
  • Penyelidikan sastra, baginya, tetap memerlukan data objektif, tetapi tidak boleh kehilangan getaran estetis.
  • Ia pernah bertekad menyusun seri kritik hingga 20 jilid, namun tidak sempat menuntaskannya.