Musik rok pernah berada di puncak kejayaan di Indonesia pada rentang 1970-an hingga 2000-an. Sejumlah nama legendaris, seperti God Bless pada era 1980-an, masih bertahan dan karyanya terus dinikmati lintas generasi.
Namun, dalam dua dekade terakhir, gaung musik rok cenderung meredup seiring munculnya ragam genre yang kian variatif—mulai dari pop, alternatif, metal, hip hop, hingga musik elektronik. Meski demikian, dinamika industri musik tidak menghentikan lahirnya band-band rok baru yang berupaya menantang selera pasar sekaligus menjaga nyala skena lokal.
Sejumlah grup generasi baru, seperti Holy City Roller, MANIPOL, dan Visual Disorder, hadir membawa elemen rok klasik dengan sentuhan modern. Di tengah lanskap yang berubah cepat, mereka menawarkan identitas masing-masing, termasuk kecenderungan yang lebih idealis dalam bermusik.
Visual Disorder: Eksperimen Liar dan Lirik Absurd
Visual Disorder adalah band rok asal Jakarta beranggotakan empat personel: Ghama (vokal dan gitar), Bimo (frekuensi rendah), Haris (drum), dan Adit (6 string). Mereka dikenal mengeksplorasi musik di luar batas konvensional lewat pendekatan eksperimental dengan lirik yang cenderung absurd.
Dalam karyanya, Visual Disorder membaurkan unsur psychedelic rock, stoner, eksperimental, hingga punk. Album Natsinadhays yang dirilis pada 2013 menjadi salah satu pintu masuk perhatian publik. Pada penghujung 2024, band ini merilis ulang album tersebut dalam versi remastered sebagai perayaan awal perjalanan mereka, yang disebut dimulai dari perilisan single “Dila adalah Rumput” dan “inyiminnimouse” dalam maxi single berjudul Bisa.
Visual Disorder juga merilis dua single “Nurahman” dan “Sylvia” pada 2018, yang disebut sebagai lanjutan dari album debut mereka. Meski kerap disebut sebagai band rock psychedelic, Visual Disorder menyatakan tidak ingin dikotakkan pada satu genre. Kebebasan itu tercermin dari ragam inspirasi yang disebut mencakup Sroeng Santi, Black Sabbath, Ramayana Soul, hingga punk ala NOFX. Mereka menonjolkan eksperimen dan lirik bermetafora, yang mereka sebut “terlalu serius untuk dianggap serius”.
Holy City Roller: Rock’n’Roll Retro dengan Tema Sosial
Holy City Rollers merupakan grup Rock’n’Roll asal Jakarta yang terbentuk pada 2004. Terinspirasi musik era 1960-an hingga 2000-an, mereka mengusung nuansa retro rock n’ roll dengan sentuhan pop tahun 60-an. Lirik mereka kerap mengangkat tema sosial, termasuk persoalan perkotaan dan kebebasan diri.
Album debut First Chapter of Allordia (2008) mencuri perhatian lewat lagu seperti “Hook Up” dan “Kingdom of Allordia”. Setelah beberapa tahun hiatus sejak album perdana, Holy City Rollers kembali melalui single “Chivalry” (2019), lalu merilis mini album Evolve (2021) yang memuat lagu “Blister” dan “Sunset”. Pada akhir 2024, mereka meluncurkan single “The Society” yang disebut akan menjadi bagian dari album baru yang sedang digarap.
MANIPOL: Menghidupkan Memori Alternative Rock dan Grunge 90-an
MANIPOL adalah band indie beraliran alternative rock yang terbentuk di Bekasi. Formasi awalnya terdiri dari Martin (vokal, gitar), Ricky (bas), dan Sandy (drum) dengan nama Mexican Seafood. Pada 2022, Sandy mengundurkan diri untuk menekuni usaha, sementara Ricky harus menjalani pekerjaan di luar negeri.
Dengan Martin sebagai personel tersisa, band ini membentuk formasi baru pada akhir 2023: Gani (drum), Denny (bas), dan Agung (gitar, back vocal). Sejak Januari 2024, formasi tersebut produktif merekam materi baru dan kemudian bergabung dengan Heavy Rain Records. Atas kesepakatan bersama, nama Mexican Seafood berubah menjadi MANIPOL.
Pada Juli 2024, MANIPOL merilis single perdana “Alasan Kosong”, disusul single kedua “Agitasi” pada akhir 2024. Martin menyebut MANIPOL ingin mengulang memori musik rok era 90-an, khususnya rock alternative dan grunge.
The Jansen: Punk-Rock Bogor dan Penghargaan AMI
The Jansen adalah band punk-rock asal Bogor yang dibentuk pada 2015. Mereka semula bernama The Baucherry And The Party sebelum berganti menjadi The Jansen. Nama tersebut terinspirasi dari lagu band The Kuda berjudul “Hey Jansen”.
The Jansen telah merilis tiga album: Present Continous (2017), Say Say say (2019), dan Banal Semakin Binal (2020), serta satu mini album From Bogor To Japan (2016). Pada 2023, mereka merilis single “Berkelana Dalam Ruang dan Mimpi”.
Di ajang Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards 2023 yang digelar pada 8 November 2023 di Jakarta International Convention Center & Theatre, Kemayoran, Jakarta Pusat, The Jansen meraih penghargaan kategori Album Rock Terbaik melalui album Banal Semakin Binal. Informasi tiket tur konser “From Bogor To Asia Tour 2024” disebut akan dirilis dalam waktu dekat.
Dongker: Punk 70-an dari Bandung
Dongker adalah grup punk-rock asal Bandung yang terbentuk pada 2019. Band ini beranggotakan Arno (gitar & vokal), Delpi (gitar & vokal), Bilal (bas), dan Dzikrie (drum). Mereka dipertemukan di lingkungan kampus Institut Teknologi Bandung (ITB).
Dongker memainkan punk ’70s bertempo cepat dengan ciri khas tiga chord. Mereka dikenal dengan karakter gitar yang kasar dan pertunjukan live yang disebut menyenangkan serta penuh energi.
Pada Juni 2024, Dongker merilis album penuh perdana Ceriwis Necis. Sebelumnya, mereka merilis mini album Upaya Memaki (2019) dan Menghibur Domba di Atas Puing (2020).
Nama Lain yang Ikut Meramaikan Skena
Selain lima band tersebut, sejumlah grup lain juga disebut masih aktif dan menambah warna dalam musik rok generasi baru di Indonesia.
WUSS, band indie rock asal Malang, Jawa Timur, digawangi Sabiella Maris (gitar, vokal), Brilyan Prathama (gitar, vokal), Rara Harumi (bass, vokal), dan Rufa Hidayat (drum).
Kingkong Milkshake, band rok alternatif/pop punk asal Malang yang eksis sejak 2012 dan telah menghasilkan 2 album, 3 album kompilasi, serta 1 single.
.Feast, yang disebut meraih penghargaan Album Rock Terbaik di AMI Awards melalui album Abdi Lara Insani.
Voice of Baceprot (VoB), trio rock/metal asal Garut yang disebut rutin tampil di sejumlah festival bergengsi dunia.
Kehadiran band-band ini menunjukkan bahwa musik rok di Indonesia belum berhenti bergaung. Di tengah perubahan tren dan selera pendengar, generasi baru menawarkan cara berbeda untuk mempertahankan energi rok—mulai dari eksplorasi eksperimental, nuansa retro, hingga punk yang lugas.

