BERITA TERKINI
Gong dan Gendang Akhir Pekan Hidupkan Ruang Publik di Kota Pegunungan Gia Lai

Gong dan Gendang Akhir Pekan Hidupkan Ruang Publik di Kota Pegunungan Gia Lai

Dentingan gong kembali menggema di jantung kota pegunungan Gia Lai setiap akhir pekan. Di hamparan Lapangan Dai Doan Ket—lokasi Monumen Presiden Ho Chi Minh bersama kelompok-kelompok etnis Dataran Tinggi Tengah—tabuhan gong dan gendang berpadu dengan tarian lingkaran, menghadirkan suasana budaya yang dekat dan mudah diakses publik.

Tanpa panggung dan tata pertunjukan yang rumit, program ini menonjolkan kesederhanaan. Keintiman ruang terbuka membuat penonton dapat menyaksikan dari jarak dekat, bahkan ikut bergerak mengikuti irama.

Lebih dari 50 pengrajin Bahnar dari desa Piơm, komune Dak Doa, tampil membawakan pertunjukan gong yang lekat dengan kehidupan ritual masyarakat, seperti perayaan panen padi baru, upacara Pơthi, hingga perayaan kemenangan. Di sela pertunjukan, penonton juga disuguhi permainan alat musik tradisional dan lagu-lagu rakyat yang memperkuat suasana meriah.

Sejumlah warga yang semula hanya menonton kemudian bergabung dalam lingkaran tabuhan dan tarian. Interaksi ini membuat bunyi gong yang akrab di desa-desa terasa hidup di lingkungan perkotaan, sekaligus membangun keterhubungan antara warga dan wisatawan.

Tran Thi Sen, warga Kelurahan Thong Nhat, mengatakan suasana akhir pekan di alun-alun menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk menonton dan ikut menari. Menurutnya, kegiatan itu meriah dan membantu orang lebih memahami budaya kelompok etnis di Dataran Tinggi Tengah.

Kesan serupa datang dari wisatawan mancanegara. Lee Houng Yong, wisatawan asal Korea Selatan, mengaku gembira dapat menikmati musik gong di ruang terbuka untuk pertama kalinya. Ia menyebut bunyi gong terasa kuat dan memikat, serta menyukai cara orang-orang menari bersama mengikuti irama.

Bagi para pengrajin, pertunjukan rutin bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari tanggung jawab menjaga warisan budaya. Perajin Ayó dari desa Piơm menyampaikan bahwa tim selalu berlatih dan mempersiapkan penampilan dengan teliti. Antusiasme publik, terutama anak muda dan wisatawan, dinilai turut memotivasi para pengrajin untuk terus berdedikasi menjaga keberlanjutan musik gong.

Regenerasi juga tampak melalui keterlibatan generasi muda. H'Cha Yơn, anggota tim gong desa Piơm, mengatakan ia dibimbing para tetua dalam setiap irama gong dan gerak tari. Dari proses itu, ia merasa semakin memahami budaya masyarakatnya dan ingin melestarikan serta menyebarkan identitas tersebut.

Ruang Budaya Gong Dataran Tinggi Tengah telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Representatif Kemanusiaan. Tradisi ini terkait erat dengan kehidupan spiritual berbagai kelompok etnis seperti Bahnar, Jrai, Ede, dan M'nong. Gong tidak hanya dipandang sebagai alat musik, tetapi juga sarana berkomunikasi dengan roh dan hadir dalam hampir semua ritual penting.

Di tengah menyusutnya ruang pertunjukan tradisional, membawa gong ke ruang publik dan mengintegrasikannya dengan kegiatan budaya serta pariwisata dipandang sebagai arah yang relevan. Selain program “Pertunjukan Gong dan Gendang Akhir Pekan - Nikmati dan Rasakan”, di area Lapangan Dai Doan Ket juga diluncurkan model “Sesi Kopi dan Budaya Akhir Pekan Gia Lai”, yang menambah pilihan pengalaman budaya bagi warga dan wisatawan.

Dalam ruang ini, gong tetap menjadi daya tarik utama dan terhubung dengan aktivitas lain seperti menikmati kopi, makanan, serta pengenalan produk khas lokal. Kombinasi tersebut memperkaya pengalaman budaya kota pegunungan.

Peneliti musik rakyat Bui Trong Hien dari Institut Kebudayaan dan Seni Nasional Vietnam menilai pertunjukan gong akhir pekan dapat menjadi arena baru yang membuka peluang bagi ansambel gong dan perangkat gong kuno untuk tampil dalam kehidupan kontemporer. Ia menekankan pelestarian yang efektif memerlukan keberlanjutan tenaga ahli, perlindungan perangkat gong kuno, dan terutama penciptaan lingkungan agar warisan ini dapat dipraktikkan secara teratur.

Dari suasana desa yang tenang, bunyi gong dan gendang kini hadir di jalan-jalan kota, menyatu dengan ritme kehidupan modern. Melalui pertunjukan rutin, keterlibatan publik, dan proses pewarisan kepada generasi muda, resonansi gong tidak hanya dipertahankan, tetapi juga terus menyebar sebagai salah satu penanda budaya Gia Lai di masa kini.