Alternative Universe (AU) kian menjadi tren bacaan di kalangan generasi Z. Kemudahan akses cerita dan visualisasi yang menyertai membuat AU semakin menjamur dan diminati, termasuk di kalangan penggemar KPop. Di sisi lain, komik digital webtoon tetap bertahan sebagai pilihan bacaan, sejak mulai populer secara global dan dipasarkan di Indonesia pada 2015.
Webtoon sempat diramaikan berbagai judul populer, seperti Si Juki, Lookism, dan Terlalu Tampan, serta judul-judul lainnya. Baik AU maupun webtoon memiliki genre cerita dan segmentasi pembaca masing-masing. Umumnya, pembaca berada pada rentang usia remaja hingga dewasa.
Karena menyasar pembaca remaja hingga dewasa, kreator AU dan komik digital kerap menuliskan peringatan sebelum cerita dimulai, terutama bila memuat unsur dewasa.
AU di Twitter dinilai lebih praktis
Sejumlah pembaca mengaku kini lebih sering membaca AU yang beredar di media sosial Twitter. Selvi (22) menyebut alasan praktis menjadi salah satu pertimbangan.
“Suka baca AU di Twitter, soalnya lebih menghemat ruang penyimpanan di ponsel gue, sih, karena enggak harus download ini itu,” ujar Selvi (22).
Ersa (22) menyampaikan pengalaman serupa. Ia mengaku jarang membuka aplikasi komik digital dan lebih sering membaca AU karena kerap muncul di linimasa.
“Jarang banget buka aplikasi komik digital, lebih suka baca AU saja. Soalnya selalu lewati di timeline Twitter,” kata Ersa.
Imajinasi pembaca dan format visual jadi daya tarik
Selain akses yang mudah, AU dinilai memberi ruang imajinasi lebih luas. Siti (22), seorang mahasiswa, mengatakan narasi dalam AU membuat pembaca dapat membangun gambaran cerita sendiri.
“Lebih suka AU. Imajinasi pembaca lebih tak terbatas, terlebih lagi mostly AU always puts attention to the details, jadi, narasi lebih memiliki peran penting di sini,” ujarnya.
Menurut Siti, pengemasan AU juga terasa lebih menarik karena sering dipadukan dengan elemen visual seperti fake chat, fake tweet, fakestagram, hingga playlist Spotify. Bahkan, ada kreator yang membuat akun khusus untuk tiap karakter guna menghidupkan alur cerita dan memunculkan hubungan parasosial antara pembaca dan tokoh.
Waktu membaca: dari menjelang tidur hingga berjam-jam
Baik AU maupun webtoon sama-sama membuat pembaca meluangkan waktu untuk mengikuti cerita. Selvi (22) mengaku bisa menghabiskan waktu cukup lama saat membaca.
“Gue baca AU atau webtoon itu bisa ngabisin waktu sekitar empat hingga lima jam, sih,” kata Selvi.
Sementara itu, Shabrina (21) mengatakan dirinya meluangkan waktu sekitar dua jam per minggu untuk membaca AU. Adapun Andien (20) menyebut waktu membaca sering dilakukan menjelang tidur atau saat baru bangun.
“Gue biasanya baca AU itu menjelang waktu tidur, biar ngantuk. Atau kadang sih pas bangun tidur,” kata Andien.
Dilema memilih cerita on going atau tamat
Pembaca AU dan webtoon juga menghadapi dilema serupa: memilih cerita yang masih berjalan (on going) atau yang sudah tamat. Selvi mengaku lebih memilih cerita yang sudah selesai untuk menghindari risiko “ditinggal” penulis dan agar alur tetap menyambung saat dibaca sekaligus.
“Tim sudah tamat karena saya malas kena ghosting author. Alasan lainnya ya biar feel-nya bisa nyambung, karena gue kalo sekali baca AU tuh gas ampe kelar,” ujar Selvi.
Shabrina menyebut pilihan tersebut kerap bergantung pada kesibukan. “Tergantung kesibukan, sih, kalau lagi sibuk mending yang sudah tamat,” katanya.
Ersa juga cenderung memilih cerita tamat agar tidak menggantung menunggu kelanjutan. Meski begitu, ia menilai cerita on going tetap menarik karena sering lebih viral dan ramai dibahas.
“Tapi yang on going juga oke karena suka lebih viral gitu. Orang-orang suka bahas dan bahkan nebak-nebak cerita selanjutnya kek seru aja ngikutin alurnya apalagi ramai di sosmed lain,” ujar Ersa.
Di tengah beragam pilihan bacaan digital, pengalaman para pembaca menunjukkan AU di Twitter kini menjadi favorit sebagian Gen Z karena praktis, mudah diakses, dan menawarkan format bercerita yang dianggap lebih imersif. Namun, webtoon masih menjadi alternatif bagi mereka yang tetap menikmati komik digital dengan ragam judul dan genre.

