Film Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982) disebut tidak hanya menampilkan nilai-nilai keislaman, tetapi juga merekam problem sosial yang hidup di masyarakat pada masanya—mulai dari fitnah hingga minimnya praktik ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Potret sosial tersebut dinilai masih relevan hingga kini.
Hal itu mengemuka dalam diskusi daring mengenai film tersebut pada Minggu (24/4/2022). Film ini disutradarai Chaerul Umam dengan skenario karya Asrul Sani. Keduanya juga pernah berkolaborasi dalam film Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1986).
Pujian dan pengakuan di Festival Film Indonesia
Selain berkesan bagi penonton, film ini juga mendapat apresiasi dari industri. Titian Serambut Dibelah Tujuh meraih penghargaan Festival Film Indonesia (FFI) 1983 untuk kategori Skenario Terbaik. Film ini juga masuk nominasi Film Terbaik FFI, sementara Dewi Irawan menjadi nominasi Aktris Terbaik pada tahun yang sama.
Kisah Ibrahim dan konflik di kampung
Menurut catatan di laman Filmindonesia.or.id, film ini berkisah tentang Ibrahim, seorang guru agama muda yang pindah ke sebuah kampung. Seorang pengelana memperingatkan Ibrahim bahwa warga kampung tersebut seperti “layang-layang putus”.
Di kampung itu, terdapat guru agama dan tokoh desa yang mengajar dengan keras, tetapi perilaku sehari-hari mereka justru jauh dari nilai yang diajarkan. Film juga menampilkan sosok orang kaya yang gemar berjudi, serta seorang pemuda yang menolak kehadiran Ibrahim—terlebih setelah Ibrahim menyaksikan pemuda itu memerkosa seorang perempuan.
Konflik memuncak ketika Ibrahim difitnah oleh seorang perempuan yang cintanya ia tolak. Ibrahim dituduh hendak memerkosa, hingga warga bergerombol untuk menghakiminya.
Dinilai berani dan tidak menggurui
Kritikus film sekaligus anggota Board of Madani International Film Festival, Hikmat Darmawan, menilai Titian Serambut Dibelah Tujuh sebagai salah satu film bertema Islam terbaik karya Chaerul Umam. Menurutnya, kekuatan film terletak pada keberanian menggambarkan isu kompleks yang dihadapi umat Islam secara apa adanya.
“Menurut saya, sajian tema Islam di film berpeluang jadi lebih kuat karena ada keberanian menggambarkan (isu) apa adanya. Walau nanti ada gambaran soal dekadensi atau keruntuhan moral di desa. Ini sebagai lambang Indonesia atau masyarakat secara umum dari perspektif keagamaan,” kata Hikmat.
Produser film Lola Amaria juga berpendapat film ini merekam kondisi sosial yang terus berulang sepanjang masa. Ia mencontohkan fitnah yang masih dapat memecah masyarakat, meski medium penyebarannya berubah.
“Ini hanya berganti zaman, tetapi intinya tetap sama,” tutur Lola. Ia menambahkan film ini menawarkan banyak perspektif yang dapat dipelajari penonton.
Sementara itu, penulis skenario sekaligus pemrogram film Ifan Ismail menilai film ini menghadirkan unsur Islam tanpa bersifat menggurui. Menurutnya, film justru menjadi cermin realitas yang mengajak audiens merenungkan keadaan masyarakat.
Direstorasi dan ditayangkan kembali
Film yang pada 2022 berusia 40 tahun ini telah direstorasi. Hasil restorasi ditayangkan di bioskop CGV pada 22–28 April 2022. Pada periode yang sama, sejumlah film lain juga ditampilkan, antara lain Merindu Cahaya De Amstel dan Jejak Langkah 2 Ulama.
Penayangan tersebut merupakan bagian dari program Ngabuburit Week on Cinema, hasil kerja sama Madani International Film Festival dengan pihak bioskop. Adapun Madani International Film Festival dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2022 dan disebut memasuki tahun kelima penyelenggaraan di Indonesia, dengan menampilkan film-film dari beragam perspektif Islam.
Hikmat menekankan pentingnya forum pemutaran agar film-film penting dapat terus diwariskan lintas generasi. “Jika tidak ada forum tertentu, akan sulit melihat film masterpiece seperti ini dari generasi ke generasi. Akibatnya, film jadi tidak terwariskan,” katanya.

