Indonesia International Book Fair (IIBF) 2025 memunculkan fenomena yang menonjol: lahirnya generasi baru kutu buku di Indonesia, terutama dari kalangan Generasi Z. Antusiasme terlihat dari ramainya pengunjung di berbagai stan, mulai dari buku filsafat, fiksi, sejarah, agama, hingga bacaan anak. Salah satu yang paling mencolok, novel Katabasis karya R.F. Kuang dilaporkan ludes terjual ratusan eksemplar meski harganya tergolong tinggi.
Fenomena ini mengisyaratkan bahwa buku kembali hadir dalam ruang percakapan publik. Dukungan teknologi dan jejaring digital global disebut turut mendorong anak muda untuk terhubung dengan komunitas pembaca dunia, sekaligus mengikuti arus tren bacaan lintas negara.
Kehadiran Gen Z di pameran buku juga melengkapi kiprah mereka di ruang publik yang lebih luas, termasuk dalam aksi-aksi politik. Peristiwa penyitaan buku-buku tertentu oleh polisi pada Agustus lalu justru disebut memicu rasa ingin tahu generasi muda terhadap pemikiran tokoh-tokoh seperti Karl Marx atau Che Guevara. Dalam konteks ini, media sosial ikut berperan dalam menggeser pola rekomendasi bacaan dari lingkup lokal menuju komunitas global.
Platform seperti Goodreads, TikTok, dan Instagram menjadi medium yang menghubungkan pembaca muda dengan tren bacaan dunia. Sementara itu, meski Indonesia dikenal memiliki tingkat konsumsi konten digital yang tinggi, buku cetak masih menjadi pilihan utama. Survei Goodstats 2025 mencatat 79 persen pembaca lebih memilih buku fisik dibanding format digital.
Bagi penerbit, dominasi buku fisik dinilai tetap menguntungkan karena menjadi penyumbang utama pendapatan. Namun, perkembangan media sosial dan lokapasar daring juga membuka peluang baru. Dengan strategi pemasaran digital, penerbit disebut dapat menjual buku hingga miliaran rupiah per judul per bulan.
Minat baca Gen Z tidak hanya terlihat di pameran dan toko buku—baik fisik maupun daring—tetapi juga di perpustakaan. Perpustakaan H.B. Jassin, Perpustakaan Nasional, serta ruang baca independen menjadi titik berkumpul anak muda. Kemunculan tren ini menunjukkan budaya baca berpeluang bangkit ketika akses dan ekosistem bacaan mampu menyesuaikan diri dengan gaya hidup mereka.
Meski demikian, tantangan besar masih membayangi. Indeks literasi anak Indonesia disebut menurun, kebijakan negara dinilai belum berpihak pada industri penerbitan, dan buku belum ditempatkan sebagai sektor strategis dalam pembangunan. Padahal, gagasan yang disorot dalam fenomena ini menegaskan bahwa kemajuan bangsa tidak bisa dilepaskan dari kekuatan ekosistem perbukuan.
Teladan pemimpin yang mencintai bacaan dinilai penting, tetapi perlu diterjemahkan ke dalam kebijakan nyata. Dalam kerangka visi Indonesia Emas 2045, buku disebut perlu masuk sebagai bagian dari strategi nasional agar Indonesia tidak tertinggal dari negara-negara tetangga.

