Hollywood kerap menjadwalkan film horor tayang mendekati Halloween pada Oktober, sebelum musim film liburan Natal dan Tahun Baru pada Desember. Namun M3gan—singkatan dari Model 3 Generative Android—memilih jalur berbeda dengan rilis pada Januari.
Film yang diproduseri James Wan (The Conjuring, Annabelle, Insidious, Aquaman) itu dapat dibaca sebagai langkah percaya diri untuk tidak berebut perhatian dengan gelombang horor Oktober, atau sebagai upaya mendorong kebiasaan menonton horor di luar musimnya. Apa pun motifnya, taruhan utamanya sama: film harus sukses secara komersial.
Di pekan pertama penayangannya, M3gan menempati posisi kedua box office, di bawah Avatar: The Way of Water, dengan pendapatan 30 juta dolar AS (sekitar Rp487 miliar). Kesuksesan ini melampaui prediksi sejumlah pengamat box office, terlebih karena jadwal rilisnya tidak lazim dan premis “boneka pembunuh” telah berulang kali digunakan. Sekuel M3gan pun diumumkan akan tayang pada Januari 2025.
Di balik capaian tersebut, film ini memancing percakapan luas—termasuk viral di Twitter dan FYP TikTok—karena memadukan beberapa tema yang menonjol. Berikut empat topik penting yang mengemuka dalam M3gan.
1. Formula “boneka pembunuh” yang diolah ulang
Kisah mainan atau boneka pembunuh bukan hal baru di horor populer. Chucky, misalnya, dikenal sebagai mainan yang dirasuki arwah pembunuh berantai Charles Lee Ray. Film pertamanya rilis pada 1988 dan berkembang menjadi delapan film serta satu serial yang akan memasuki musim ketiganya.
Resep serupa juga hadir pada Annabelle dalam semesta film garapan James Wan, yang terinspirasi dari boneka milik pasangan pengusir setan Ed dan Lorraine Warren. Annabelle setidaknya telah memiliki tiga film.
M3gan bergerak di jalur yang mirip, namun dengan pembeda penting: ancamannya bukan supranatural. M3gan diciptakan dari AI dan beroperasi sebagai android. Dalam beberapa aspek, ia terasa lebih dekat dengan keseharian anak-anak masa kini yang terbiasa berinteraksi dengan teknologi.
2. Horor yang bersumber dari teknologi
M3gan mengangkat kembali pertanyaan klasik: apakah teknologi sepenuhnya baik, atau justru berpotensi mengancam eksistensi manusia? Tema ini telah lama hadir dalam film-film bertema robot, masa depan, dan AI—dari Terminator, Ex Machina, Ghost in the Shell, Her, hingga Matrix.
Dalam film ini, kontradiksi tersebut menjadi poros utama cerita. Gemma (Allison William), tokoh utama sekaligus pencipta M3gan, pada akhirnya harus berhadapan dengan ciptaannya sendiri demi melindungi dirinya dan orang-orang di sekitarnya.
3. Isu parenting dan kesiapan perempuan menjadi ibu
Di luar tema teknologi, naskah M3gan juga berputar pada isu parenting dan kesiapan perempuan menjadi ibu. Cady (Violet McGraw) mendadak menjadi yatim piatu dan harus tinggal bersama tantenya, Gemma, yang digambarkan sebagai perempuan pekerja lajang.
Perubahan mendadak itu mengguncang keduanya. Cady masih berada dalam kondisi syok, sementara Gemma juga syok dan tidak tahu bagaimana mengurus anak berusia 10 tahun. Pergulatan Gemma menjadi elemen penting, terutama ketika ia memilih menyerahkan urusan keseharian Cady kepada boneka android ciptaannya.
Keputusan tersebut menjadi titik kunci konflik sekaligus satire terhadap orang tua modern: pemberian mainan berteknologi tinggi kepada anak kerap dianggap lumrah, tanpa selalu disertai pertimbangan tentang dampaknya terhadap proses tumbuh kembang dan komunikasi anak-orang tua. Dinamika hubungan Cady dan Gemma inilah yang menjadi pusat pertunjukan sekaligus sumber horor film.
4. Horor klasik dan cara film menakut-nakuti perempuan pekerja
M3gan juga memuat elemen horor klasik: sosok “final girl”, boneka pembunuh sebagai sumber ancaman, inspirasi dari kehidupan nyata, serta perempuan yang kerap ditempatkan sebagai objek ketakutan.
Dalam kajian film, istilah final girl merujuk pada karakter perempuan yang sejak awal diteror oleh monster, setan, atau pembunuh, lalu bertahan hingga akhir film untuk melawan ancaman tersebut. Konsep ini dibahas, antara lain, dalam buku Men, Women, and Chainsaw karya profesor kajian film Carol Clover.
Di M3gan, final girl muncul dalam dua sosok: Cady dan Gemma. Namun film ini juga menonjolkan bingkai konflik yang menempatkan Gemma—sebagai perempuan pekerja—dalam sorotan. Sejumlah dialog M3gan secara terang-terangan mempertanyakan kapasitas Gemma sebagai wali yang baik, termasuk keputusan Gemma yang dinilai mengutamakan pekerjaan. Pada adegan puncak, M3gan bahkan menyebut Gemma bukan perempuan baik dan tidak akan bisa menjadi ibu yang baik.
Elemen horor klasik lain yang disebut hadir adalah penggunaan benda tajam (phallus) yang lazim muncul pada babak akhir saat final girl berhadapan langsung dengan monster. Dalam film ini, baik Cady maupun Gemma menggunakan alat tersebut untuk menumbangkan boneka android itu.
- Rilis di luar musim horor tidak menghalangi M3gan meraih capaian box office tinggi.
- Premis boneka pembunuh dibuat berbeda lewat pendekatan AI dan android, bukan supranatural.
- Isu parenting dan relasi pengasuhan menjadi inti konflik, bukan sekadar latar.
- Kerangka horor klasik tetap terasa, termasuk pembacaan terhadap posisi perempuan—terutama perempuan pekerja—dalam narasi ketakutan.

