BERITA TERKINI
Ekspansi Piala Dunia Dinilai Menggerus Makna dan Membebani Pemain

Ekspansi Piala Dunia Dinilai Menggerus Makna dan Membebani Pemain

Jakarta — Wacana memperbesar jumlah peserta Piala Dunia kembali mencuat, meski final Piala Dunia 2026 belum dimainkan. Setelah format turnamen diperluas dari 32 menjadi 48 tim, muncul pembahasan lanjutan untuk menambahnya menjadi 64 tim pada edisi 2030.

Gagasan ekspansi kerap dipandang menjanjikan: lebih banyak negara berpeluang tampil, lebih banyak pertandingan tersaji, dan lebih banyak cerita serta momen kebangsaan hadir di panggung sepak bola terbesar. Namun, di balik narasi inklusivitas itu, muncul kekhawatiran bahwa perluasan turnamen lebih banyak digerakkan oleh logika pasar yang menuntut pertumbuhan finansial.

Dalam pandangan tersebut, industri sepak bola modern dinilai terus mendorong lahirnya “pertunjukan” baru selama masih menghasilkan keuntungan. Analogi yang dipakai adalah Colosseum dalam film Gladiator, ketika penonton terus meminta pertarungan berikutnya tanpa memedulikan konsekuensi bagi para petarung. Bedanya, jika gladiator bertarung dengan pedang, pesepak bola disebut bertarung melawan kalender pertandingan yang kian padat.

Padatnya agenda kompetisi menjadi sorotan karena dianggap mengabaikan batas biologis pemain. Masa pemulihan dinilai semakin sempit, sementara tuntutan pertandingan terus bertambah: liga berjalan, kompetisi antarklub menunggu, tim nasional memanggil, turnamen bertambah, dan Piala Dunia diperbesar. Di tengah tekanan itu, tubuh manusia—otot, lutut, dan hamstring—tidak berubah mengikuti rapat bisnis atau target pendapatan.

Kritik lain diarahkan pada perubahan cara publik memaknai turnamen. Perbincangan dinilai lebih sering berkutat pada jumlah pertandingan, nilai hak siar, dan berapa banyak negara yang akan lolos, ketimbang membahas konsekuensi fisik bagi pemain dan kebutuhan pemulihan mereka.

Selain soal beban pemain, ekspansi juga dipandang berpotensi mengubah makna sebuah tiket ke Piala Dunia. Dahulu, lolos ke putaran final digambarkan sebagai pencapaian yang sangat sulit, bahkan ada negara yang menunggu puluhan tahun untuk bisa tampil. Kesulitan itulah yang dianggap membentuk kehormatan dan kebanggaan.

Ketika jalan menuju Piala Dunia diperlebar, muncul paradoks: semakin mudah dicapai, semakin sulit mempertahankan kemegahan dan rasa takjub yang selama ini melekat. Dalam pandangan tersebut, keagungan Piala Dunia bukan semata karena banyaknya negara yang hadir, melainkan karena ketatnya persaingan untuk bisa sampai ke sana.

Pada akhirnya, perluasan turnamen bisa dikenang sebagai kemenangan bagi inklusivitas. Namun, ada pula kekhawatiran bahwa perubahan itu justru menjadi momen ketika Piala Dunia perlahan “kehilangan rasa laparnya”: panggung semakin besar dan pertunjukan semakin panjang, tetapi daya magisnya pelan-pelan mengecil.